Because the goddess in you has long been waiting to be recognized....and because you're so loved by her...find your eternal beauty in the circle of goddess.
Selasa, 21 September 2010
Trouble entri "Dia yang Mencintai" dan "Mahkota Dewa"
Entri saya bulan September, "Dia yang mencintai" dan "Mahkota Dewa"...kog tidak terlihat ya...tapi Anda dapat membacanya dengan meng-klik blog berjudul artikel2 tersebut yang saya share ke facebook saya. Sorry...and thanks.
Mahkota Dewa
Pagi ini seperti biasanya, selepas jalan pagi, aku duduk menghadap taman depan jendela kamarku sambil menghirup secangkir kopi panas dan melahap beberapa biskuit. Seperti biasanya juga mataku menyapa pohon Mahkota Dewa dan bunga Lilin kuning, Kamboja merah jambu, Nusa Indah putih, Soka merah tua. Tiada henti aku terpesona, betapa awetnya bunga-bunga itu, berbulan-bulan entah hujan entah panas, bunga itu tetap setia menebarkan keindahannya. Itulah santapan pagi yang kulahap dengan syukur, kusapa dengan cinta, dan membawaku pada kesadaran akan kehadiran Sang Pencipta.
Namun....ada yang beda hari ini, itu sebabnya aku tergerak membuka laptopku untuk menuliskannya. Saat mataku menelusuri kehijauan pepohonan dan rumput serta dedaunan, mendadak mataku melihat bunga-bunga putih kecil bertumpukan menutupi dahan dan ranting Mahkota Dewa, bahkan dahan yang tampaknya sudah mati, karena ranting-rantingnya terkulai patah, di pangkalnya kulihat deretan bunga-bunga putih....begitu indah, menakjubkan. Kemarin rasanya ranting dan dahan itu tidak menampakkan sesuatu yang istimewa, mungkin aku tak menyadarinya, karena dahan dan ranting itu agak tertutup dedaunan. Tampaknya hujan yang terus menerus mengguyur bumi kemarin merupakan berkah bagi Mahkota Dewa, memberinya nutrisi untuk mendorong munculnya daya hidup baru yang menghiasi dahan dan rantingnya...dan sebentar lagi, akan menjadi buah-buah merah yang di sana sini telah muncul, menempel di dahan dan ranting.
Aku merasa tersindir. Baru saja aku memberikan seember pakaian kotor yang habis kupakai kemarin kepada ‘Si Mbak’. Kepadanya aku mengeluh, 'Mbak celana panjangku yang hitam ini kotor lho, kemarin hujan deras, banjir sebetis, gile deh..kaki saya dan celana ini terendam air ...jadi kotor sekali, tolong didulukan ya nyucinya” Sambil mengingat pengalaman kemarin sore, saat aku kebingungan kejebak banjir di jalan Sudirman, aku hendak mengajar, sudah berpakaian rapih dengan sepatu yang baru pertama kali kupakai, sepatu berhak tebal, sengaja kubeli untuk musim hujan, agar setidaknya kakiku terlindung dari air di jalanan....e..eh...kali ini air merendam hak tebal sepatu, plus celana panjang hitamku...Kemarin di ruang sekretariat, kebanyakan kami berkeluh kesah tentang hujan di Jakarta, selalu ada banjir, kotor, macet, baju basah kuyup,mahasiswa dan dosen telat,dst.
Kemarin kami mengeluh..pagi ini, Mahkota Dewa dengan bunga-bunga bercahaya di dahan yang tampak mati, bercerita kepadaku, “Aku bahagia...hujan memberiku semangat untuk melahirkan bunga dan buah-buah....hujan membantuku hidup sepenuhnya....”
Hari ini..aku bersyukur, Mahkota Dewa membantuku menjalani hidup dengan caranya, ia menerima ....apa yang diberikan alam sahabatnya, dan menari bersamanya. Ya pastilah mereka menari, karena mereka tampak bersinar, ceria, bersemangat. Terima kasih Mahkota Dewa.
(Dewi Minangsari 22-9-2010)
Namun....ada yang beda hari ini, itu sebabnya aku tergerak membuka laptopku untuk menuliskannya. Saat mataku menelusuri kehijauan pepohonan dan rumput serta dedaunan, mendadak mataku melihat bunga-bunga putih kecil bertumpukan menutupi dahan dan ranting Mahkota Dewa, bahkan dahan yang tampaknya sudah mati, karena ranting-rantingnya terkulai patah, di pangkalnya kulihat deretan bunga-bunga putih....begitu indah, menakjubkan. Kemarin rasanya ranting dan dahan itu tidak menampakkan sesuatu yang istimewa, mungkin aku tak menyadarinya, karena dahan dan ranting itu agak tertutup dedaunan. Tampaknya hujan yang terus menerus mengguyur bumi kemarin merupakan berkah bagi Mahkota Dewa, memberinya nutrisi untuk mendorong munculnya daya hidup baru yang menghiasi dahan dan rantingnya...dan sebentar lagi, akan menjadi buah-buah merah yang di sana sini telah muncul, menempel di dahan dan ranting.
Aku merasa tersindir. Baru saja aku memberikan seember pakaian kotor yang habis kupakai kemarin kepada ‘Si Mbak’. Kepadanya aku mengeluh, 'Mbak celana panjangku yang hitam ini kotor lho, kemarin hujan deras, banjir sebetis, gile deh..kaki saya dan celana ini terendam air ...jadi kotor sekali, tolong didulukan ya nyucinya” Sambil mengingat pengalaman kemarin sore, saat aku kebingungan kejebak banjir di jalan Sudirman, aku hendak mengajar, sudah berpakaian rapih dengan sepatu yang baru pertama kali kupakai, sepatu berhak tebal, sengaja kubeli untuk musim hujan, agar setidaknya kakiku terlindung dari air di jalanan....e..eh...kali ini air merendam hak tebal sepatu, plus celana panjang hitamku...Kemarin di ruang sekretariat, kebanyakan kami berkeluh kesah tentang hujan di Jakarta, selalu ada banjir, kotor, macet, baju basah kuyup,mahasiswa dan dosen telat,dst.
Kemarin kami mengeluh..pagi ini, Mahkota Dewa dengan bunga-bunga bercahaya di dahan yang tampak mati, bercerita kepadaku, “Aku bahagia...hujan memberiku semangat untuk melahirkan bunga dan buah-buah....hujan membantuku hidup sepenuhnya....”
Hari ini..aku bersyukur, Mahkota Dewa membantuku menjalani hidup dengan caranya, ia menerima ....apa yang diberikan alam sahabatnya, dan menari bersamanya. Ya pastilah mereka menari, karena mereka tampak bersinar, ceria, bersemangat. Terima kasih Mahkota Dewa.
(Dewi Minangsari 22-9-2010)
Minggu, 19 September 2010
Dia Yang Mencintai
Lebaran telah usai, tapi gemanya dapat abadi ketika CINTA mewarnai hati. Adalah seorang gadis kecil yang hidup di suatu negeri yang sedang ditimpa kekeringan dan rakyatnya sekarat. Ia biasa di panggil, Yang Sendirian, karena ia suka menyendiri. Dalam keputusasaan penduduk memanggil Roh Agung mohon pertolongan. “Roh Agung, tanah kami sekarat, dan rakyat kami hampir musnah. Hentikanlah kemarau panjang ini dan selamatkanlah rakyatMu, karena tak ada lagi yang tersisa dari kami.” Mereka mengajukan doa dengan tarian dan nyanyian. Si gadis kecil mengamati orang-orang yang sedang berdoa itu, sambil memeluk boneka yang mirip dirinya. Itulah satu-satunya teman yang memberinya kekuatan dalam masa sulit dan kelaparan.
Roh Agung akhirnya memberi pencerahan,bunyinya,”Hai manusia, selama banyak generasi kalian mengambil apa saja yang kalian butuhkan dari bumi, tetapi kalian, manusia, tak pernah sekali pun memberi kembali kepada bumi. Sekarang bumi tertekan dan memerlukan pengorbanan dari kalian. Berikanlah sesuatu yang paling berharga dalam hidup kalian, persembahkan itu sebagai kurban bakaran lalu abunya sebarkan keempat arah mata angin. Jika itu terlaksana , maka hujan akan turun dan bumi akan pulih kembali.”
Penduduk yang memahami pesan itu, segera kembali ke pondok masing-masing untuk menemukan benda paling berharga mereka. Seorang pemanah menemukan busur, tetapi katanya,”Pastilah Roh Agung tidak menginginkan busurku ini.” Seorang dukun yang sangat mencintai tanaman obat-obatan, berkata:”Ah, Aku tahu Roh Agung tidak akan meminta tanaman ini.” Seorang ibu yang sayang sekali pada selimut tebalnya, berkata”Ah mana mungkin Roh Agung menginginkan selimut ini.”
Begitulah semua orang menemukan alasan untuk tidak memberikan benda berharga mereka. Sementara bencana makin parah dan banyak manusia sekarat. Keadaan itu menggerakkan hati si gadis kecil. Segera ia mengambil bonekanya dan berkata,”Bonekaku sayang, Roh Agung menginginkanmu,” Dan malam hari ia mempersembahkan boneka kesayangannya, merelakan boneka itu dimakan api. Sambil menangis ia berkata,”Roh Agung, boneka ini, hadiah ibuku sebelum ia meninggal, boneka ini paling berharga dalam hidupku, terimalah.” Airmatanya terus mengalir ketika ia menebarkan abu ke empat penjuru bumi. Ia membayangkan wajah orang-orang tercinta yang telah meninggal karena bencana di kampungnya. Esok hari, ketika ia terbangun, …tetes hujan pertama jatuh membasahi wajahnya…rakyat pun bersuka cita dan selamat dari bencana. Sejak hari itu, ia dinamakan,”Dia Yang Mencintai.”
Roh Agung akhirnya memberi pencerahan,bunyinya,”Hai manusia, selama banyak generasi kalian mengambil apa saja yang kalian butuhkan dari bumi, tetapi kalian, manusia, tak pernah sekali pun memberi kembali kepada bumi. Sekarang bumi tertekan dan memerlukan pengorbanan dari kalian. Berikanlah sesuatu yang paling berharga dalam hidup kalian, persembahkan itu sebagai kurban bakaran lalu abunya sebarkan keempat arah mata angin. Jika itu terlaksana , maka hujan akan turun dan bumi akan pulih kembali.”
Penduduk yang memahami pesan itu, segera kembali ke pondok masing-masing untuk menemukan benda paling berharga mereka. Seorang pemanah menemukan busur, tetapi katanya,”Pastilah Roh Agung tidak menginginkan busurku ini.” Seorang dukun yang sangat mencintai tanaman obat-obatan, berkata:”Ah, Aku tahu Roh Agung tidak akan meminta tanaman ini.” Seorang ibu yang sayang sekali pada selimut tebalnya, berkata”Ah mana mungkin Roh Agung menginginkan selimut ini.”
Begitulah semua orang menemukan alasan untuk tidak memberikan benda berharga mereka. Sementara bencana makin parah dan banyak manusia sekarat. Keadaan itu menggerakkan hati si gadis kecil. Segera ia mengambil bonekanya dan berkata,”Bonekaku sayang, Roh Agung menginginkanmu,” Dan malam hari ia mempersembahkan boneka kesayangannya, merelakan boneka itu dimakan api. Sambil menangis ia berkata,”Roh Agung, boneka ini, hadiah ibuku sebelum ia meninggal, boneka ini paling berharga dalam hidupku, terimalah.” Airmatanya terus mengalir ketika ia menebarkan abu ke empat penjuru bumi. Ia membayangkan wajah orang-orang tercinta yang telah meninggal karena bencana di kampungnya. Esok hari, ketika ia terbangun, …tetes hujan pertama jatuh membasahi wajahnya…rakyat pun bersuka cita dan selamat dari bencana. Sejak hari itu, ia dinamakan,”Dia Yang Mencintai.”
Langganan:
Postingan (Atom)