Cinta abadi di tubuh yang fana.
Alkisah Ares, salah satu dari sekian banyak kekasih Dewi Aphrodite, jatuh cinta pada Eos, the goddess of dawn, sang Dewi Cahaya Pagi. Suatu hari Aphrodite mendapati keduanya sedang berduaan, dan ia cemburu bukan main. Ia segera mengeluarkan kutukan, bahwa Eos tak akan pernah bisa jatuh cinta lagi kepada para dewa, Eos hanya bisa jatuh cinta kepada manusia.
Kutukan segera menjadi kenyataan. Eos jatuh cinta pada pangeran tampan dari kerajaan Troy, bernama Tithonus. Keduanya sangat bahagia bersama. Mereka tak mampu membayangkan hidup terpisah kala maut menjemput Tithonus yang fana. Oleh akrena itu Eos mengabulkan permintaan Tithonus untuk bisa hidup selamanya. Pada mulanya segalanya terasa indah, mereka muda, sehat, penuh gairah hidup. Tetapi tubuh fana Tithonus semakin lama semakin lemah dan rapuh, sehingga hidup dengan umur panjang hanya membuatnya semakin menderita tak tertanggungkan. Akhirnya, ia memohon pada Eos agar dapat melepasnya mati dalam damai. Sudah menjadi hukum di dunia para dewa, bahwa anugerah dari dewa-dewi tidak bisa dibatalkan. Eos dalam keputusasaannya menghadap Dewa Zeus, berharap ia dapat melakukannya, tapi harapan itu sia-sia. Akhirnya, karena Tithonus tak bisa terus hidup pun mati, maka berubahlah ia menjadi seekor jengkerik. Sejak itu setiap subuh menjelang, ia membunyikan suaranya dengan nyaring menyapa bekas kekasihnya, dewi Cahaya Pagi.
Because the goddess in you has long been waiting to be recognized....and because you're so loved by her...find your eternal beauty in the circle of goddess.
Selasa, 05 Oktober 2010
Selasa, 21 September 2010
Trouble entri "Dia yang Mencintai" dan "Mahkota Dewa"
Entri saya bulan September, "Dia yang mencintai" dan "Mahkota Dewa"...kog tidak terlihat ya...tapi Anda dapat membacanya dengan meng-klik blog berjudul artikel2 tersebut yang saya share ke facebook saya. Sorry...and thanks.
Mahkota Dewa
Pagi ini seperti biasanya, selepas jalan pagi, aku duduk menghadap taman depan jendela kamarku sambil menghirup secangkir kopi panas dan melahap beberapa biskuit. Seperti biasanya juga mataku menyapa pohon Mahkota Dewa dan bunga Lilin kuning, Kamboja merah jambu, Nusa Indah putih, Soka merah tua. Tiada henti aku terpesona, betapa awetnya bunga-bunga itu, berbulan-bulan entah hujan entah panas, bunga itu tetap setia menebarkan keindahannya. Itulah santapan pagi yang kulahap dengan syukur, kusapa dengan cinta, dan membawaku pada kesadaran akan kehadiran Sang Pencipta.
Namun....ada yang beda hari ini, itu sebabnya aku tergerak membuka laptopku untuk menuliskannya. Saat mataku menelusuri kehijauan pepohonan dan rumput serta dedaunan, mendadak mataku melihat bunga-bunga putih kecil bertumpukan menutupi dahan dan ranting Mahkota Dewa, bahkan dahan yang tampaknya sudah mati, karena ranting-rantingnya terkulai patah, di pangkalnya kulihat deretan bunga-bunga putih....begitu indah, menakjubkan. Kemarin rasanya ranting dan dahan itu tidak menampakkan sesuatu yang istimewa, mungkin aku tak menyadarinya, karena dahan dan ranting itu agak tertutup dedaunan. Tampaknya hujan yang terus menerus mengguyur bumi kemarin merupakan berkah bagi Mahkota Dewa, memberinya nutrisi untuk mendorong munculnya daya hidup baru yang menghiasi dahan dan rantingnya...dan sebentar lagi, akan menjadi buah-buah merah yang di sana sini telah muncul, menempel di dahan dan ranting.
Aku merasa tersindir. Baru saja aku memberikan seember pakaian kotor yang habis kupakai kemarin kepada ‘Si Mbak’. Kepadanya aku mengeluh, 'Mbak celana panjangku yang hitam ini kotor lho, kemarin hujan deras, banjir sebetis, gile deh..kaki saya dan celana ini terendam air ...jadi kotor sekali, tolong didulukan ya nyucinya” Sambil mengingat pengalaman kemarin sore, saat aku kebingungan kejebak banjir di jalan Sudirman, aku hendak mengajar, sudah berpakaian rapih dengan sepatu yang baru pertama kali kupakai, sepatu berhak tebal, sengaja kubeli untuk musim hujan, agar setidaknya kakiku terlindung dari air di jalanan....e..eh...kali ini air merendam hak tebal sepatu, plus celana panjang hitamku...Kemarin di ruang sekretariat, kebanyakan kami berkeluh kesah tentang hujan di Jakarta, selalu ada banjir, kotor, macet, baju basah kuyup,mahasiswa dan dosen telat,dst.
Kemarin kami mengeluh..pagi ini, Mahkota Dewa dengan bunga-bunga bercahaya di dahan yang tampak mati, bercerita kepadaku, “Aku bahagia...hujan memberiku semangat untuk melahirkan bunga dan buah-buah....hujan membantuku hidup sepenuhnya....”
Hari ini..aku bersyukur, Mahkota Dewa membantuku menjalani hidup dengan caranya, ia menerima ....apa yang diberikan alam sahabatnya, dan menari bersamanya. Ya pastilah mereka menari, karena mereka tampak bersinar, ceria, bersemangat. Terima kasih Mahkota Dewa.
(Dewi Minangsari 22-9-2010)
Namun....ada yang beda hari ini, itu sebabnya aku tergerak membuka laptopku untuk menuliskannya. Saat mataku menelusuri kehijauan pepohonan dan rumput serta dedaunan, mendadak mataku melihat bunga-bunga putih kecil bertumpukan menutupi dahan dan ranting Mahkota Dewa, bahkan dahan yang tampaknya sudah mati, karena ranting-rantingnya terkulai patah, di pangkalnya kulihat deretan bunga-bunga putih....begitu indah, menakjubkan. Kemarin rasanya ranting dan dahan itu tidak menampakkan sesuatu yang istimewa, mungkin aku tak menyadarinya, karena dahan dan ranting itu agak tertutup dedaunan. Tampaknya hujan yang terus menerus mengguyur bumi kemarin merupakan berkah bagi Mahkota Dewa, memberinya nutrisi untuk mendorong munculnya daya hidup baru yang menghiasi dahan dan rantingnya...dan sebentar lagi, akan menjadi buah-buah merah yang di sana sini telah muncul, menempel di dahan dan ranting.
Aku merasa tersindir. Baru saja aku memberikan seember pakaian kotor yang habis kupakai kemarin kepada ‘Si Mbak’. Kepadanya aku mengeluh, 'Mbak celana panjangku yang hitam ini kotor lho, kemarin hujan deras, banjir sebetis, gile deh..kaki saya dan celana ini terendam air ...jadi kotor sekali, tolong didulukan ya nyucinya” Sambil mengingat pengalaman kemarin sore, saat aku kebingungan kejebak banjir di jalan Sudirman, aku hendak mengajar, sudah berpakaian rapih dengan sepatu yang baru pertama kali kupakai, sepatu berhak tebal, sengaja kubeli untuk musim hujan, agar setidaknya kakiku terlindung dari air di jalanan....e..eh...kali ini air merendam hak tebal sepatu, plus celana panjang hitamku...Kemarin di ruang sekretariat, kebanyakan kami berkeluh kesah tentang hujan di Jakarta, selalu ada banjir, kotor, macet, baju basah kuyup,mahasiswa dan dosen telat,dst.
Kemarin kami mengeluh..pagi ini, Mahkota Dewa dengan bunga-bunga bercahaya di dahan yang tampak mati, bercerita kepadaku, “Aku bahagia...hujan memberiku semangat untuk melahirkan bunga dan buah-buah....hujan membantuku hidup sepenuhnya....”
Hari ini..aku bersyukur, Mahkota Dewa membantuku menjalani hidup dengan caranya, ia menerima ....apa yang diberikan alam sahabatnya, dan menari bersamanya. Ya pastilah mereka menari, karena mereka tampak bersinar, ceria, bersemangat. Terima kasih Mahkota Dewa.
(Dewi Minangsari 22-9-2010)
Minggu, 19 September 2010
Dia Yang Mencintai
Lebaran telah usai, tapi gemanya dapat abadi ketika CINTA mewarnai hati. Adalah seorang gadis kecil yang hidup di suatu negeri yang sedang ditimpa kekeringan dan rakyatnya sekarat. Ia biasa di panggil, Yang Sendirian, karena ia suka menyendiri. Dalam keputusasaan penduduk memanggil Roh Agung mohon pertolongan. “Roh Agung, tanah kami sekarat, dan rakyat kami hampir musnah. Hentikanlah kemarau panjang ini dan selamatkanlah rakyatMu, karena tak ada lagi yang tersisa dari kami.” Mereka mengajukan doa dengan tarian dan nyanyian. Si gadis kecil mengamati orang-orang yang sedang berdoa itu, sambil memeluk boneka yang mirip dirinya. Itulah satu-satunya teman yang memberinya kekuatan dalam masa sulit dan kelaparan.
Roh Agung akhirnya memberi pencerahan,bunyinya,”Hai manusia, selama banyak generasi kalian mengambil apa saja yang kalian butuhkan dari bumi, tetapi kalian, manusia, tak pernah sekali pun memberi kembali kepada bumi. Sekarang bumi tertekan dan memerlukan pengorbanan dari kalian. Berikanlah sesuatu yang paling berharga dalam hidup kalian, persembahkan itu sebagai kurban bakaran lalu abunya sebarkan keempat arah mata angin. Jika itu terlaksana , maka hujan akan turun dan bumi akan pulih kembali.”
Penduduk yang memahami pesan itu, segera kembali ke pondok masing-masing untuk menemukan benda paling berharga mereka. Seorang pemanah menemukan busur, tetapi katanya,”Pastilah Roh Agung tidak menginginkan busurku ini.” Seorang dukun yang sangat mencintai tanaman obat-obatan, berkata:”Ah, Aku tahu Roh Agung tidak akan meminta tanaman ini.” Seorang ibu yang sayang sekali pada selimut tebalnya, berkata”Ah mana mungkin Roh Agung menginginkan selimut ini.”
Begitulah semua orang menemukan alasan untuk tidak memberikan benda berharga mereka. Sementara bencana makin parah dan banyak manusia sekarat. Keadaan itu menggerakkan hati si gadis kecil. Segera ia mengambil bonekanya dan berkata,”Bonekaku sayang, Roh Agung menginginkanmu,” Dan malam hari ia mempersembahkan boneka kesayangannya, merelakan boneka itu dimakan api. Sambil menangis ia berkata,”Roh Agung, boneka ini, hadiah ibuku sebelum ia meninggal, boneka ini paling berharga dalam hidupku, terimalah.” Airmatanya terus mengalir ketika ia menebarkan abu ke empat penjuru bumi. Ia membayangkan wajah orang-orang tercinta yang telah meninggal karena bencana di kampungnya. Esok hari, ketika ia terbangun, …tetes hujan pertama jatuh membasahi wajahnya…rakyat pun bersuka cita dan selamat dari bencana. Sejak hari itu, ia dinamakan,”Dia Yang Mencintai.”
Roh Agung akhirnya memberi pencerahan,bunyinya,”Hai manusia, selama banyak generasi kalian mengambil apa saja yang kalian butuhkan dari bumi, tetapi kalian, manusia, tak pernah sekali pun memberi kembali kepada bumi. Sekarang bumi tertekan dan memerlukan pengorbanan dari kalian. Berikanlah sesuatu yang paling berharga dalam hidup kalian, persembahkan itu sebagai kurban bakaran lalu abunya sebarkan keempat arah mata angin. Jika itu terlaksana , maka hujan akan turun dan bumi akan pulih kembali.”
Penduduk yang memahami pesan itu, segera kembali ke pondok masing-masing untuk menemukan benda paling berharga mereka. Seorang pemanah menemukan busur, tetapi katanya,”Pastilah Roh Agung tidak menginginkan busurku ini.” Seorang dukun yang sangat mencintai tanaman obat-obatan, berkata:”Ah, Aku tahu Roh Agung tidak akan meminta tanaman ini.” Seorang ibu yang sayang sekali pada selimut tebalnya, berkata”Ah mana mungkin Roh Agung menginginkan selimut ini.”
Begitulah semua orang menemukan alasan untuk tidak memberikan benda berharga mereka. Sementara bencana makin parah dan banyak manusia sekarat. Keadaan itu menggerakkan hati si gadis kecil. Segera ia mengambil bonekanya dan berkata,”Bonekaku sayang, Roh Agung menginginkanmu,” Dan malam hari ia mempersembahkan boneka kesayangannya, merelakan boneka itu dimakan api. Sambil menangis ia berkata,”Roh Agung, boneka ini, hadiah ibuku sebelum ia meninggal, boneka ini paling berharga dalam hidupku, terimalah.” Airmatanya terus mengalir ketika ia menebarkan abu ke empat penjuru bumi. Ia membayangkan wajah orang-orang tercinta yang telah meninggal karena bencana di kampungnya. Esok hari, ketika ia terbangun, …tetes hujan pertama jatuh membasahi wajahnya…rakyat pun bersuka cita dan selamat dari bencana. Sejak hari itu, ia dinamakan,”Dia Yang Mencintai.”
Selasa, 31 Agustus 2010
Pelukan Cinta
Kalau ada pelukan cinta,
yang kerap kurasa menyelimuti keseluruhan rasa tubuh dan hatiku
Pernahkah engkau akan menjadi nyata
datang kepadaku?
Aku rindu menatap wajahmu
Siapakah engkau,
Yang kusapa setiap saat dengan banyak nama
Kehadiranmu nyata namun aku tak mampu melihatmu,
Kusapa engkau dalam pepohonan
Yang menebarkan energinya ke dalam jiwaku
Kusapa engkau dalam angin
Yang mengingatkanku akan gerak alam alam semesta
Kusapa engkau dalam langit berbintang,
Yang menyampaikan penghiburanmu kepadaku
Kusapa engkau dalam cahaya pagi,
Yang memberiku kegairahan menyambut kebaruan
Kusapa engkau dalam terang rembulan,
Yang memberiku rasa dicintai dan dikenang
Dalam kesendirianku
Engkau ada di mana-mana
Menemuiku
Seakan menyampaikan pesan
Bahwa sesungguhnyalah aku tak pernah sendirian,
Itulah yang membuatku meirndukanmu
Siapakah engkau,wahai roh semesta.
Tulisan ini kubuat tahun 2006, tak sengaja aku membuka filenya lagi, dan ternyata pengalaman itu tetap sama. Setiap pagi, hari-hari ini, ketika aku jalan pagi dalam gelap yang pekat, ketika alam bersiap menyambut terang, aku melintasi pepohonan di kiri kanan jalan, bagaikan gerbang yang dilewati calon pengantin King Arthur dalam kerajaan Kamelot, menyongsong sang Raja. Pohon-pohon itu begitu tenang, menebarkan aroma wangi bunga yang lembut. Kehadiran pohon, yang di kala siang terabaikan oleh deru kendaraan dan polusi, kini begitu nyata bagiku. Ia kurasa bagai sosok rendah hati, yang memaklumi hati manusia yang keruh karena mengejar yang fana. Dari hatiku terlontar sapaan, "selamat pagi..pohon, terima kasih....sembuhkan kehidupanku, sembuhkan hatiku,...sembuhkan kami." Ketenangannya memberiku rasa aman dan perlindungan. Ini mengingatkankan pada kisah-kisah mitologi mengenai pohon kehidupan. Ibu kehidupan berdiam di pepohonan. Di Kompas minggu lalu aku baca cerpen yang berbicara tentang manusia-manusia kehilangan rasa, mereka mampu mencintai kembali karena menyelamatkan pohon yang hampir ditebang oleh kebodohan manusia pintar yang merasa bangunan lebih berharga dari hutan. Aku pun salah satu dari sekian banyak manusia bodoh yang cintanya dijernihkan kembali oleh roh semesta yang menyapaku dalam pepohonan, di pagi hari, saat fajar menyapa dunia baru.
Ketika, the goddess menyapaku, hari ini...
(Dewi Minangsari)
yang kerap kurasa menyelimuti keseluruhan rasa tubuh dan hatiku
Pernahkah engkau akan menjadi nyata
datang kepadaku?
Aku rindu menatap wajahmu
Siapakah engkau,
Yang kusapa setiap saat dengan banyak nama
Kehadiranmu nyata namun aku tak mampu melihatmu,
Kusapa engkau dalam pepohonan
Yang menebarkan energinya ke dalam jiwaku
Kusapa engkau dalam angin
Yang mengingatkanku akan gerak alam alam semesta
Kusapa engkau dalam langit berbintang,
Yang menyampaikan penghiburanmu kepadaku
Kusapa engkau dalam cahaya pagi,
Yang memberiku kegairahan menyambut kebaruan
Kusapa engkau dalam terang rembulan,
Yang memberiku rasa dicintai dan dikenang
Dalam kesendirianku
Engkau ada di mana-mana
Menemuiku
Seakan menyampaikan pesan
Bahwa sesungguhnyalah aku tak pernah sendirian,
Itulah yang membuatku meirndukanmu
Siapakah engkau,wahai roh semesta.
Tulisan ini kubuat tahun 2006, tak sengaja aku membuka filenya lagi, dan ternyata pengalaman itu tetap sama. Setiap pagi, hari-hari ini, ketika aku jalan pagi dalam gelap yang pekat, ketika alam bersiap menyambut terang, aku melintasi pepohonan di kiri kanan jalan, bagaikan gerbang yang dilewati calon pengantin King Arthur dalam kerajaan Kamelot, menyongsong sang Raja. Pohon-pohon itu begitu tenang, menebarkan aroma wangi bunga yang lembut. Kehadiran pohon, yang di kala siang terabaikan oleh deru kendaraan dan polusi, kini begitu nyata bagiku. Ia kurasa bagai sosok rendah hati, yang memaklumi hati manusia yang keruh karena mengejar yang fana. Dari hatiku terlontar sapaan, "selamat pagi..pohon, terima kasih....sembuhkan kehidupanku, sembuhkan hatiku,...sembuhkan kami." Ketenangannya memberiku rasa aman dan perlindungan. Ini mengingatkankan pada kisah-kisah mitologi mengenai pohon kehidupan. Ibu kehidupan berdiam di pepohonan. Di Kompas minggu lalu aku baca cerpen yang berbicara tentang manusia-manusia kehilangan rasa, mereka mampu mencintai kembali karena menyelamatkan pohon yang hampir ditebang oleh kebodohan manusia pintar yang merasa bangunan lebih berharga dari hutan. Aku pun salah satu dari sekian banyak manusia bodoh yang cintanya dijernihkan kembali oleh roh semesta yang menyapaku dalam pepohonan, di pagi hari, saat fajar menyapa dunia baru.
Ketika, the goddess menyapaku, hari ini...
(Dewi Minangsari)
Minggu, 29 Agustus 2010
Tatapan itu suci
“Di Amerika Selatan, seorang jurnalis bertemu dengan seorang kepala suku penduduk asli Amerika, dan jurnalis ini ingin mewawancarainya. Kepala suku itu setuju dengan syarat bahwa mereka bertemu dahulu sebelum interview. Jurnalis ini mengira bahwa dalam pertemuan itu mereka akan omong-omong, seperti pertemuan biasa. Ternyata, sang kepala suku menarik tubuhnya ke samping, dan menatap lurus ke matanya, diam lama sekali. Sikap ini membuat sang jurnalis ketakutan. Ia merasa seperti ditelanjangi oleh tatapan dan sikap diam orang yang tak dikenalnya itu. Tak lama kemudian si jurnalis mulai menguatkan tatapannya sendiri. Keduanya menatap dengan diam dalam waktu lebih dari dua jam! Sesudah itu, ia merasa seakan mereka sudah saling mengenal sejak lama. Tak ada lagi kebutuhan untuk interview.” Dalam arti tertentu, tatapan ke mata orang lain adalah tatapan ke kedalaman dan ke keseluruhan hidup orang yang ditatap. Tatapan mata tak dapat membohongi dunia batin kita. ….
Senin, 23 Agustus 2010
Batu Rubi yang Cacat
Love makes us vulnerable…
Memilih untuk mencintai membuat hati rapuh, mudah tersentuh, dan karenanya mudah ‘sakit’. Tetapi bagiku lebih baik tetap memilih untuk mencintai dari pada membiarkan hati mengeras dan beku. Memilih untuk mencintai, berarti juga memilih untuk terus menerus setia melakukan proses pemurnian batin, kalau tidak hati yang sakit akan mengotori kemurnian cinta, cinta bukan lagi energi yang menggairahkan hidup, melainkan energi yang merusak hidup.…bagaimana memperlakukan pengalaman terluka dan noda-noda hidup yang kita toreh, sengaja atau tak sengaja di sepanjang perjalanan hidup kita? Kisah batu rubi yang cacat memberiku inspirasi :
Adalah seorang raja yang memiliki batu rubi luar biasa indah dan mahal, hasil kemakmuran, kekayaan dan kekuasaannya. Setiap hari raja memandangi batu rubi itu dengan sangat bangga. Suatu hari ia mendapati batu rubinya telah tergores. Ia menjadi sangat cemas bagaimana memperbaiki cacat pada batu indah tersebut ? Kemudian dia memanggil semua ahli batu permata di seluruh negeri untuk memeriksa dan melakukan sesuatu memperbaikinya. Para tukang permata itu sepakat, perbaikan yang dilakukan akan menyebabkan kerusakan yang lebih parah. Mendengar itu raja putus asa. Ia menawarkan hadiah besar kepada tukang permata, tetapi tak ada yang berani. Beberapa hari kemudian seorang pelayan menyampaikan kabar, ada ahli permata yang tinggal di daerah terpencil. Ia dikenal sangat berpengalaman dalam mengatasi masalah kerusakan permata murni. Raja meminta petugas memanggilnya. Tak lama sang utusan datang bersama ahli permata tersebut. Penampilannya yang tua, bungkuk dan lusuh mengundang sikap cemooh para pembesar kerajaan. Tetapi raja tak peduli, ahli permata itu dibawanya melihat batu rubinya yang cacat. Setelah berpikir sejenak, sang ahli berkata,”Saya tak bisa memperbaiki cacat pada batu rubi Tuanku. Tetapi jika Tuanku berkenan, hamba akan membuatnya lebih indah. Semula raja ragu-ragu, tetapi ia sudah sangat putus asa karena tak ada lagi yang dapat dilakukan, maka ia setuju saja. Si ahli permata mulai bekerja. Ia memotong, menggosok batu rubi tersebut. Beberapa hari kemudian, raja boleh menyaksikan hasil karyanya. Di atas batu permata itu si ahli permata memahat bunga mawar yang sangat indah dan rumit yang alurnya dibentuk dari goresan yang telah membuat batu itu cacat.
Sahabat, kisah tadi mengingatkan, bahwa cacat tak dapat dilenyapkan, melainkan dirubah menjadi bentuk baru yang lebih indah. Demikian pula cacat hidup, noda dan trauma, tak bisa lenyap dalam hidup sama sekali. Oleh karena itu tak perlu bersusah payah menutupi atau melenyapkan noda hidup, melainkan telusuri setiap alur noda, dan pahatlah di atasnya karya-karya baru yang berkualitas. Dengan cara itu hidupku, hidupmu menjadi ringan dan bermakna. Selamat memahat kehidupan batin.....
Salamku, Dewi Minangsari
Memilih untuk mencintai membuat hati rapuh, mudah tersentuh, dan karenanya mudah ‘sakit’. Tetapi bagiku lebih baik tetap memilih untuk mencintai dari pada membiarkan hati mengeras dan beku. Memilih untuk mencintai, berarti juga memilih untuk terus menerus setia melakukan proses pemurnian batin, kalau tidak hati yang sakit akan mengotori kemurnian cinta, cinta bukan lagi energi yang menggairahkan hidup, melainkan energi yang merusak hidup.…bagaimana memperlakukan pengalaman terluka dan noda-noda hidup yang kita toreh, sengaja atau tak sengaja di sepanjang perjalanan hidup kita? Kisah batu rubi yang cacat memberiku inspirasi :
BATU RUBI YANG CACAT
Adalah seorang raja yang memiliki batu rubi luar biasa indah dan mahal, hasil kemakmuran, kekayaan dan kekuasaannya. Setiap hari raja memandangi batu rubi itu dengan sangat bangga. Suatu hari ia mendapati batu rubinya telah tergores. Ia menjadi sangat cemas bagaimana memperbaiki cacat pada batu indah tersebut ? Kemudian dia memanggil semua ahli batu permata di seluruh negeri untuk memeriksa dan melakukan sesuatu memperbaikinya. Para tukang permata itu sepakat, perbaikan yang dilakukan akan menyebabkan kerusakan yang lebih parah. Mendengar itu raja putus asa. Ia menawarkan hadiah besar kepada tukang permata, tetapi tak ada yang berani. Beberapa hari kemudian seorang pelayan menyampaikan kabar, ada ahli permata yang tinggal di daerah terpencil. Ia dikenal sangat berpengalaman dalam mengatasi masalah kerusakan permata murni. Raja meminta petugas memanggilnya. Tak lama sang utusan datang bersama ahli permata tersebut. Penampilannya yang tua, bungkuk dan lusuh mengundang sikap cemooh para pembesar kerajaan. Tetapi raja tak peduli, ahli permata itu dibawanya melihat batu rubinya yang cacat. Setelah berpikir sejenak, sang ahli berkata,”Saya tak bisa memperbaiki cacat pada batu rubi Tuanku. Tetapi jika Tuanku berkenan, hamba akan membuatnya lebih indah. Semula raja ragu-ragu, tetapi ia sudah sangat putus asa karena tak ada lagi yang dapat dilakukan, maka ia setuju saja. Si ahli permata mulai bekerja. Ia memotong, menggosok batu rubi tersebut. Beberapa hari kemudian, raja boleh menyaksikan hasil karyanya. Di atas batu permata itu si ahli permata memahat bunga mawar yang sangat indah dan rumit yang alurnya dibentuk dari goresan yang telah membuat batu itu cacat.
Sahabat, kisah tadi mengingatkan, bahwa cacat tak dapat dilenyapkan, melainkan dirubah menjadi bentuk baru yang lebih indah. Demikian pula cacat hidup, noda dan trauma, tak bisa lenyap dalam hidup sama sekali. Oleh karena itu tak perlu bersusah payah menutupi atau melenyapkan noda hidup, melainkan telusuri setiap alur noda, dan pahatlah di atasnya karya-karya baru yang berkualitas. Dengan cara itu hidupku, hidupmu menjadi ringan dan bermakna. Selamat memahat kehidupan batin.....
Salamku, Dewi Minangsari
Jumat, 20 Agustus 2010
Perempuan Penyembuh
Pagi ini saya membaca sebuah artikel mengenai seorang tukang pijet. Di banyak tempat bisnis ini makin subur. Yang memprihatinkan tempat ini dimanfaatkan juga oleh lelaki yang kalah oleh hasrat, menjadi pemuasan. Memang pengalaman dipijet mengajar kita tentang seksualitas diri sendiri. Pijetan yang enak dan nyaman merangsang hasrat kenikmatan untuk dipuaskan, sebaliknya pijetan juga dapat memicu pengalaman pelecehan di masa lampau, karena disentuh secara tak pantas atau karena tak pernah disentuh sama sekali. Pijetan dapat memicu ketakutan kehilangan kontrol oleh rangsangan seksual, cemas kalau-kalau kita lepas kontrol.
Pijet memijet sesungguhnya dapat dihayati sebagai pengalaman spiritual. Pijetan merupakan komunikasi berbagai energi. Sentuhan tangan pemijet adalah medium mengalirnya energi kesembuhan, dan di sini kemampuan memahami batas sangat-lah penting. Pijet juga merupakan percakapan dalam bahasa rasa, si pemijet memberikan talenta berharga, yakni dirinya sendiri. Saat memijet ia memberikan energi kesembuhan yang ia terima.
Seorang perempuan tukang pijet yang menghayati pekerjaannya secara spiritual mengatakan, kalau sentuhannya untuk menyembuhkan orang lain, maka ia harus bisa mempercayai dirinya sendiri, mempercayai kemurnian batiniahnya. Sentuhan seperti ini tidak hanya menyembuhkan penyakit fisik, lebih jauh lagi ia menyembuhkan luka di hati orang lain yang kita sentuh.
Jadi, percayai kemurnian batin kita….agar sentuhan lembut semakin berdaya menyembuhkan dan menyucikan.
Berjalan tertatih-tatih, letih
Seorang lelaki meminta uang
kepada seorang perempuan, sasaran empuk,
Perempuan itu tak punya uang,
Dengan spontan ia menyentuh bahu si lelaki
Lelaki itu menangis tersedu-sedu.
Telah bertahun-tahun tak seorang pun memberinya sentuhan. (SPIRITUALITY, Orbis Book)
Dewi Minangsari,
Sabtu yang murni 21Ag 2010
Pijet memijet sesungguhnya dapat dihayati sebagai pengalaman spiritual. Pijetan merupakan komunikasi berbagai energi. Sentuhan tangan pemijet adalah medium mengalirnya energi kesembuhan, dan di sini kemampuan memahami batas sangat-lah penting. Pijet juga merupakan percakapan dalam bahasa rasa, si pemijet memberikan talenta berharga, yakni dirinya sendiri. Saat memijet ia memberikan energi kesembuhan yang ia terima.
Seorang perempuan tukang pijet yang menghayati pekerjaannya secara spiritual mengatakan, kalau sentuhannya untuk menyembuhkan orang lain, maka ia harus bisa mempercayai dirinya sendiri, mempercayai kemurnian batiniahnya. Sentuhan seperti ini tidak hanya menyembuhkan penyakit fisik, lebih jauh lagi ia menyembuhkan luka di hati orang lain yang kita sentuh.
Jadi, percayai kemurnian batin kita….agar sentuhan lembut semakin berdaya menyembuhkan dan menyucikan.
Berjalan tertatih-tatih, letih
Seorang lelaki meminta uang
kepada seorang perempuan, sasaran empuk,
Perempuan itu tak punya uang,
Dengan spontan ia menyentuh bahu si lelaki
Lelaki itu menangis tersedu-sedu.
Telah bertahun-tahun tak seorang pun memberinya sentuhan. (SPIRITUALITY, Orbis Book)
Dewi Minangsari,
Sabtu yang murni 21Ag 2010
Senin, 16 Agustus 2010
Memahami Makna Sejati Merdeka dari perempuan Akbar
Bulan Agustus adalah bulan yang penuh diwarnai oleh tema kemerdekaan. Tanggal 17 Agustus kita merayakan kemerdekaan negara kita dari penjajah. Di bawah ini saya kutip sebuah puisi dari seorang klien bertahun-tahun lalu. Berangkat dari puisi ini, saya mengajak Anda untuk menengok makna kemerdekaan lebih mendalam, menemukan makna sejati sebuah kemerdekaan. Itu sebabnya tema makalah ini saya berjudul ”Freedom is yours”
I used to think that freedom
was what someone gave to me,
until I found I was bound by
nameless heavy chains I could not
see…..that very freedom
that no one but myself could
give it to me
I’ve spent my life time waiting for someone to set me free
I could not grow,
I didn’t know, that in my very hands
I held the key
(from EO, 14.3.96)
Puisi ini mengajak Anda untuk memperkuat kesadaran bahwa kunci kemerdekaan diri kita tidak berada di tempat lain. Saya ingin kita lebih menyadari makna keluhan yang kerap kita dengar atau kita ucapkan sendiri ,”Hidupku terkekang, aku tidak bebas karena suami atau isteriku terlalu mengontrol; aku benci pada mama atau papa, karena memaksaku masuk jurusan yang tak kusukai,” Atau,”Yah..mau apa lagi, hidupku begini..memang sudah nasib… “
Apakah itu benar? Apakah memang hidup kita ditentukan oleh orang lain, benarkah kebahagiaan kita ditentukan oleh pasangan, orang tua, atau lingkungan? Mungkin ya…jika itu sesuai dengan harapan kita, nah kalau sebaliknya? Kita salahkan “Nasib”
Kebebasan kita menjalani hidup dan mewujudkan kehidupan yang kita inginkan sesungguhnya tidak berada di teman, di partner, pacar, orang tua, kepala negara, pemimpin, guru, melainkan in our very hands we hold the key. In my very hands I hold the key, In your very hands you hold the key.
Saya, Anda, mempunyai kunci untuk membuka rantai yang membelenggu kita selama ini, agar saya dan Anda hidup lebih merdeka.
Bagaimana rasanya merdeka?
……………………
Bagaimana caranya .....?
Saya jawab dengan sebuah kisah berikut:
Dahulu kala, pada zaman di mana kerap terjadi peperangan, dan perebutan wilayah oleh bangsa atau kerajaan yang lebih kuat, adalah sebuah kota yang bernama Akbar. Kota ini kaya raya dan makmur karena letaknya yang strategis, di jalur perdagangan antara barat dan timur, utara dan selatan.
Suatu hari kota ini diserang dan dihancurkan oleh musuh. Para pejabat, gubernur, kaum bangsawan dan orang kaya, menyelamatkan diri dan harta benda mereka ke kota lain, meninggalkan kaum lemah dan miskin dalam kota yang tak lagi bertuan, ditinggalkan begitu saja oleh musuh. Karena tujuan musuh, hanyalah menguasai kota Akbar untuk dijadikan pintu masuk menaklukkan kota tetangga yang lebih kaya.
Di antara mereka yang tertinggal tak berdaya di kota, adalah seorang pemuda asing, yang beberapa lama pernah menumpang di kota itu, di rumah seorang janda beranak satu. Pemuda ini sebenarnya seorang pelarian dari sebuah suku terjajah di wilayah lain. Ia lari. Pertama karena ia memang hendak dibunuh oleh pasukan penjajah, kedua ia lari dari suara hatinya sendiri yang menyuarakan agar ia bertahan dan berjuang membebaskan bangsanya dari penjajahan. Dalam pelarian itulah ia tiba di Akbar dan di terima di rumah seorang janda yang tinggal di pinggir kota.
Pemuda ini selamat dari bencana pemusnahan kota. Dengan banyak luka dan memar di tubuh, ia ingat akan janda dan anak lelakinya yang masih kecil. Maka dicarinya mereka di antara reruntuhan kota. Anak lelaki, syukur ditemukannya selamat mesti sangat shock dan ketakutan. Mereka berdua mencari ibu si bocah. Sang ibu ternyata sekarat di bawah reruntuhan puing rumah mereka. Sang ibu berkata kepada mereka,”Sebantar lagi aku akan pergi, tapi aku berada di lembah dan bukit di kota ini, aku ada pada orang-orang yang menderita, aku ada di kaum bangsawan, dan para pemimpin. Aku adalah Akbar”
Sang anak menangis....ibunya masih melanjutkan, kali ini berbicara kepada lelaki asing,”Berjanjilah untuk melindungi anakku sampai ia kuat berjalan sendiri...”
Ketika sang janda menghembuskan napas, kedua lelaki itu menangis pedih. Mereka berjalan menuju padang gurun tak jauh dari kota, berjalan tak tentu arah, melepaskan duka lara. Lalu terkapar lelah dan tertidur. Saat terbangun, sang anak mulai mencerna kejadian sebelumnya, ia berkata, ”Aku harus kembali ke Akbar, bukankah ibuku mengatakan bahwa ia adalah Akbar? Aku tak mau wajah ibuku porak poranda....aku akan membangun Akbar.....” seraya mulai lagi menangis.
Sang lelaki yang sadar akan janjinya untuk menjaga si anak, mendukung niat si kecil. Mereka kembali ke kota setelah terlebih dahulu meminta makan pada gembala yang tersebar di gurun.
Mereka bergerak di alun-alun kota. Si bocah mengumpulkan puing-puing dan menatanya agar bisa digunakan lagi untuk membangun kota. Sang lelaki mengumpulkan mayat-mayat yang bergelatakan, di tumpuk di alun-alun untuk dibakar. Melihat ada aktivitas itu, para janda, anak-anak dan lelaki tua yang selamat tergerak untuk melakukan yang sama. Semakin lama kegiatan itu mendapat dukungan dan menimbulkan kembali daya hidup mereka. Kaum ibu mengumpulkan makanan dari rumah-rumah yang ditinggalkan.
Seminggu berlalu, kota telah lebih rapi, mereka sudah memperoleh tempat tinggal, dan kini mereka berkumpul di alun-alun untuk beristirahat. Saat itulah si lelaki berkata:”Hai saudara saudariku seperjuangan....ternyata kita mampu mengalahkan musuh diri kita sendiri, kitalah pemenang kota ini” Horeee.!! Semua berseru dan bertepuk tangan.
Mari kita rayakan hari kemenangan ini. Aku tidak ingin kalian melepaskan begitu saja peristiwa akbar ini. Mari kita beri nama pada hidup kita saat ini, hidup baru yang terberkati.”
“Namaku adalah si Pembebas karena aku akan kembali ke kotaku untuk membebaskannya dari si penjajah”
Si bocah bangkit,”Aku lah si Pembangun, karena aku ingin membangun kotaku secantik ibuku”
Yang lain bergiliran menyusul “Akulah si Penolong” karena aku menemukan hidupku kembali saat menolong para tetanggaku yang terluka.”
DST (Inspirasi dari The Fifth Mountain)
Nah....pertanyaannya adalah, apakah hubungannya antara sebuah nama dan kemerdekaan yang pada awal kita bicarakan?
Kalau kita merasakan semangat para tokoh dalam cerita tadi, dan bagaimana mereka menemukan nama masing-masing, kita akan merasakan sebuah energi hidup, energi para pemenang, dan energi individu-individu yang menemukan kembali kehidupannya yang sesungguhnya. Sebuah energi dari hati yang merdeka. Mereka memilih nama dan dalam nama itu tertulis bentuk dan impian hidup mereka masing-masing. Tak ada nama yang sama, semua unik dan khas, dan disuarakan dengan semangat kelegaan.
Jadi freedom is yours hendak menegaskan: Kita sesungguhnya makhluk meredeka, merdeka dari sejak diciptakan. Kita merdeka memilih dan menentukan seperti apa kita hendak menjalani hidup. Bukan orang lain yang memerdekakan kita, bukan orang lain pula yang menjajah diri kita. Bukan orang lain yang menyebabkan kebahagiaan kita, bukan orang lain pula yang menyebabkan penderitaan kita. Bukan suami, isteri orang tua, kekasih, teman....tetapi in our very hands we hold the key!
Ciri sebuah bangsa dengan individu merdeka di dalamnya adalah: Sebuah kota yang penduduknya saling menolong, yang bernapaskan cinta, bagaikan cinta sang ibu membesarkan anak-anaknya. Bagaikan Akbar, sang ibu si bocah, yang mau menerima dan menolong orang asing dan miskin di rumahnya…dst
Bagaimana mempertahankan kesadaran akan “Fredom is mine?” ......dengan melakukan strategi NAMA
N amai dirimu: (Tentukan namamu dalam menjalani hidup ini. Nama ini merupakan wujud kehidupan yang didambakan oleh hatimu)
A ksi: (sebuah nama menjadi hidup karena ada aksi, dan aksi bermakna karena ada nama)
M emilih: (inti sikap makhluk merdeka adalah kesanggupannya untuk MEMILIH. Memilih, termasuk memilih nama, memilih jodoh, pekerjaan, karir, jalan hidup dan yang terpenting memilih bagaimana saya mau menjalani hidup ini kini dan di sini)
A ntisipasi: (antisipasi adalah harapan, membayangkan, merasakan, memperkirakan. Jadi kita hidup dan memilih untuk bertindak dengan harapan, dan memilih untuk merasa bahagia dan lega hidup dengan tujuan yang bernama itu. Maka tetap bayangkan wujud nama Anda, dambaan Anda, hirup aroma dan rasakan nyamannya)
Oleh Dewi Minangsari, pada Hut Kemerdekaan
I used to think that freedom
was what someone gave to me,
until I found I was bound by
nameless heavy chains I could not
see…..that very freedom
that no one but myself could
give it to me
I’ve spent my life time waiting for someone to set me free
I could not grow,
I didn’t know, that in my very hands
I held the key
(from EO, 14.3.96)
Puisi ini mengajak Anda untuk memperkuat kesadaran bahwa kunci kemerdekaan diri kita tidak berada di tempat lain. Saya ingin kita lebih menyadari makna keluhan yang kerap kita dengar atau kita ucapkan sendiri ,”Hidupku terkekang, aku tidak bebas karena suami atau isteriku terlalu mengontrol; aku benci pada mama atau papa, karena memaksaku masuk jurusan yang tak kusukai,” Atau,”Yah..mau apa lagi, hidupku begini..memang sudah nasib… “
Apakah itu benar? Apakah memang hidup kita ditentukan oleh orang lain, benarkah kebahagiaan kita ditentukan oleh pasangan, orang tua, atau lingkungan? Mungkin ya…jika itu sesuai dengan harapan kita, nah kalau sebaliknya? Kita salahkan “Nasib”
Kebebasan kita menjalani hidup dan mewujudkan kehidupan yang kita inginkan sesungguhnya tidak berada di teman, di partner, pacar, orang tua, kepala negara, pemimpin, guru, melainkan in our very hands we hold the key. In my very hands I hold the key, In your very hands you hold the key.
Saya, Anda, mempunyai kunci untuk membuka rantai yang membelenggu kita selama ini, agar saya dan Anda hidup lebih merdeka.
Bagaimana rasanya merdeka?
……………………
Bagaimana caranya .....?
Saya jawab dengan sebuah kisah berikut:
KISAH: KOTA BERNAMA A K B A R
Dahulu kala, pada zaman di mana kerap terjadi peperangan, dan perebutan wilayah oleh bangsa atau kerajaan yang lebih kuat, adalah sebuah kota yang bernama Akbar. Kota ini kaya raya dan makmur karena letaknya yang strategis, di jalur perdagangan antara barat dan timur, utara dan selatan.
Suatu hari kota ini diserang dan dihancurkan oleh musuh. Para pejabat, gubernur, kaum bangsawan dan orang kaya, menyelamatkan diri dan harta benda mereka ke kota lain, meninggalkan kaum lemah dan miskin dalam kota yang tak lagi bertuan, ditinggalkan begitu saja oleh musuh. Karena tujuan musuh, hanyalah menguasai kota Akbar untuk dijadikan pintu masuk menaklukkan kota tetangga yang lebih kaya.
Di antara mereka yang tertinggal tak berdaya di kota, adalah seorang pemuda asing, yang beberapa lama pernah menumpang di kota itu, di rumah seorang janda beranak satu. Pemuda ini sebenarnya seorang pelarian dari sebuah suku terjajah di wilayah lain. Ia lari. Pertama karena ia memang hendak dibunuh oleh pasukan penjajah, kedua ia lari dari suara hatinya sendiri yang menyuarakan agar ia bertahan dan berjuang membebaskan bangsanya dari penjajahan. Dalam pelarian itulah ia tiba di Akbar dan di terima di rumah seorang janda yang tinggal di pinggir kota.
Pemuda ini selamat dari bencana pemusnahan kota. Dengan banyak luka dan memar di tubuh, ia ingat akan janda dan anak lelakinya yang masih kecil. Maka dicarinya mereka di antara reruntuhan kota. Anak lelaki, syukur ditemukannya selamat mesti sangat shock dan ketakutan. Mereka berdua mencari ibu si bocah. Sang ibu ternyata sekarat di bawah reruntuhan puing rumah mereka. Sang ibu berkata kepada mereka,”Sebantar lagi aku akan pergi, tapi aku berada di lembah dan bukit di kota ini, aku ada pada orang-orang yang menderita, aku ada di kaum bangsawan, dan para pemimpin. Aku adalah Akbar”
Sang anak menangis....ibunya masih melanjutkan, kali ini berbicara kepada lelaki asing,”Berjanjilah untuk melindungi anakku sampai ia kuat berjalan sendiri...”
Ketika sang janda menghembuskan napas, kedua lelaki itu menangis pedih. Mereka berjalan menuju padang gurun tak jauh dari kota, berjalan tak tentu arah, melepaskan duka lara. Lalu terkapar lelah dan tertidur. Saat terbangun, sang anak mulai mencerna kejadian sebelumnya, ia berkata, ”Aku harus kembali ke Akbar, bukankah ibuku mengatakan bahwa ia adalah Akbar? Aku tak mau wajah ibuku porak poranda....aku akan membangun Akbar.....” seraya mulai lagi menangis.
Sang lelaki yang sadar akan janjinya untuk menjaga si anak, mendukung niat si kecil. Mereka kembali ke kota setelah terlebih dahulu meminta makan pada gembala yang tersebar di gurun.
Mereka bergerak di alun-alun kota. Si bocah mengumpulkan puing-puing dan menatanya agar bisa digunakan lagi untuk membangun kota. Sang lelaki mengumpulkan mayat-mayat yang bergelatakan, di tumpuk di alun-alun untuk dibakar. Melihat ada aktivitas itu, para janda, anak-anak dan lelaki tua yang selamat tergerak untuk melakukan yang sama. Semakin lama kegiatan itu mendapat dukungan dan menimbulkan kembali daya hidup mereka. Kaum ibu mengumpulkan makanan dari rumah-rumah yang ditinggalkan.
Seminggu berlalu, kota telah lebih rapi, mereka sudah memperoleh tempat tinggal, dan kini mereka berkumpul di alun-alun untuk beristirahat. Saat itulah si lelaki berkata:”Hai saudara saudariku seperjuangan....ternyata kita mampu mengalahkan musuh diri kita sendiri, kitalah pemenang kota ini” Horeee.!! Semua berseru dan bertepuk tangan.
Mari kita rayakan hari kemenangan ini. Aku tidak ingin kalian melepaskan begitu saja peristiwa akbar ini. Mari kita beri nama pada hidup kita saat ini, hidup baru yang terberkati.”
“Namaku adalah si Pembebas karena aku akan kembali ke kotaku untuk membebaskannya dari si penjajah”
Si bocah bangkit,”Aku lah si Pembangun, karena aku ingin membangun kotaku secantik ibuku”
Yang lain bergiliran menyusul “Akulah si Penolong” karena aku menemukan hidupku kembali saat menolong para tetanggaku yang terluka.”
DST (Inspirasi dari The Fifth Mountain)
Nah....pertanyaannya adalah, apakah hubungannya antara sebuah nama dan kemerdekaan yang pada awal kita bicarakan?
Kalau kita merasakan semangat para tokoh dalam cerita tadi, dan bagaimana mereka menemukan nama masing-masing, kita akan merasakan sebuah energi hidup, energi para pemenang, dan energi individu-individu yang menemukan kembali kehidupannya yang sesungguhnya. Sebuah energi dari hati yang merdeka. Mereka memilih nama dan dalam nama itu tertulis bentuk dan impian hidup mereka masing-masing. Tak ada nama yang sama, semua unik dan khas, dan disuarakan dengan semangat kelegaan.
Jadi freedom is yours hendak menegaskan: Kita sesungguhnya makhluk meredeka, merdeka dari sejak diciptakan. Kita merdeka memilih dan menentukan seperti apa kita hendak menjalani hidup. Bukan orang lain yang memerdekakan kita, bukan orang lain pula yang menjajah diri kita. Bukan orang lain yang menyebabkan kebahagiaan kita, bukan orang lain pula yang menyebabkan penderitaan kita. Bukan suami, isteri orang tua, kekasih, teman....tetapi in our very hands we hold the key!
Ciri sebuah bangsa dengan individu merdeka di dalamnya adalah: Sebuah kota yang penduduknya saling menolong, yang bernapaskan cinta, bagaikan cinta sang ibu membesarkan anak-anaknya. Bagaikan Akbar, sang ibu si bocah, yang mau menerima dan menolong orang asing dan miskin di rumahnya…dst
Bagaimana mempertahankan kesadaran akan “Fredom is mine?” ......dengan melakukan strategi NAMA
Strategi: “N.A.M.A.”
N amai dirimu: (Tentukan namamu dalam menjalani hidup ini. Nama ini merupakan wujud kehidupan yang didambakan oleh hatimu)
A ksi: (sebuah nama menjadi hidup karena ada aksi, dan aksi bermakna karena ada nama)
M emilih: (inti sikap makhluk merdeka adalah kesanggupannya untuk MEMILIH. Memilih, termasuk memilih nama, memilih jodoh, pekerjaan, karir, jalan hidup dan yang terpenting memilih bagaimana saya mau menjalani hidup ini kini dan di sini)
A ntisipasi: (antisipasi adalah harapan, membayangkan, merasakan, memperkirakan. Jadi kita hidup dan memilih untuk bertindak dengan harapan, dan memilih untuk merasa bahagia dan lega hidup dengan tujuan yang bernama itu. Maka tetap bayangkan wujud nama Anda, dambaan Anda, hirup aroma dan rasakan nyamannya)
SELAMAT MENEMUKAN NAMA,
SELAMAT MERDEKA!!
Oleh Dewi Minangsari, pada Hut Kemerdekaan
Senin, 09 Agustus 2010
The Power of Gentleness
Dahulu kala, seorang Raja penguasa Attica di Yunani mendorong suku-suku di wilayahnya untuk bersatu padu membangun Ibu Kota Kerajaan. Para dewa penghuni Olympus mengamati apa yang sedang dilakukan oleh raja. Mereka segara tahu bahwa kota yang sedang dibangunnya akan menjadi salah satu kota terbesar di dunia. Hal itu membuat para dewa berebut ingin ditunjuk sebagai patron atau pelindung kota tersebut. Maka terjadilah perdebatan di antara para dewa untuk menentukan siapa yang pantas. Ada dua, dewa dan dewi yang paling merasa layak mendapat kehormatan tersebut. Yang satu dewa Poseideon, karena kota yang sedang dibangun terletak di dekat laut, wilayah kekuasaan sang dewa; satu calon lagi adalah dewi Athene karena sebagai Goddess of Good Counsel pantaslah ia yang menjadi patron masyarakat yang akan mengembangkan civilisasi di kota besar tersebut.
Keduanya berdebat dan tak ada yang mengalah. Dewa Zeus sadar kalau kedua dewa yang memiliki kekuatan luar biasa dibiarkan berdebat dan semakin memanas, akan berdampak buruk untuk Olimpus. Maka Zeus mengadakan kompetisi. Masing-masing ditantang untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat untuk manusia, sesuatu yang tidak hanya indah tapi berguna.Siapa yang mampu menghasilkan ciptaan terbagus dan berguna akan menjadi patron kota baru itu sebagai hadiahnya
Poseidon dengan kesaktiannya memukul tanah dan tiba-tiba muncullah makhluk binatang indah, kuat, cepat dan sangat mengagumkan. Itulah kuda pertama yang pernah diciptakan. Para dewa terkagum-kagum menyaksikan ciptaan luar biasa itu. Mereka berpikir masalah akhirnya teratasi, pemenang sudah jelas. Tetapi dewi Athene tersenyum lembut, dari tanah berbatu ia menciptakan sebuah pohon dengan daunnya yang hijau, buahnya juga hijau berbentuk oval kecil, begitu indah, begitu segar. Itulah pohon zaitun.
“Pohon zaitun itu,” tunjuk Athene, “akan menghasilkan makanan untuk manusia dan minyak untuk persembahan kepada para dewa. Pohon itu kuat, tahan terhadap segala cuaca, menghasilkan banyak buah, bahkan di atas tanah kering berbatu. Dan yang paling penting,” katanya, “pohon zaitun melambangkan perdamaian, sedangkan kuda melambangkan perang.” Tentu saja damai jauh lebih bergunadari pada perang untuk makhluk mortal seprti manusia. Meski pun tak ada satu pun dari para dewa yang mau mengalahkan Poseidon, mereka mengagumi ciptaannya, tetapi mereka harus mengakui bahwa Athene-lah pemenangnya. Pohon zaitun ciptaannya merupakan hadiah paling berharga dari para dewa kepad rakyat Yunani. Di tengah kegembiraan para dewa di Olympus, kota baru itu mendapatkan nama sekaligus dewi pelindung:.Athene, the Goddess of Good Councel.
Keduanya berdebat dan tak ada yang mengalah. Dewa Zeus sadar kalau kedua dewa yang memiliki kekuatan luar biasa dibiarkan berdebat dan semakin memanas, akan berdampak buruk untuk Olimpus. Maka Zeus mengadakan kompetisi. Masing-masing ditantang untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat untuk manusia, sesuatu yang tidak hanya indah tapi berguna.Siapa yang mampu menghasilkan ciptaan terbagus dan berguna akan menjadi patron kota baru itu sebagai hadiahnya
Poseidon dengan kesaktiannya memukul tanah dan tiba-tiba muncullah makhluk binatang indah, kuat, cepat dan sangat mengagumkan. Itulah kuda pertama yang pernah diciptakan. Para dewa terkagum-kagum menyaksikan ciptaan luar biasa itu. Mereka berpikir masalah akhirnya teratasi, pemenang sudah jelas. Tetapi dewi Athene tersenyum lembut, dari tanah berbatu ia menciptakan sebuah pohon dengan daunnya yang hijau, buahnya juga hijau berbentuk oval kecil, begitu indah, begitu segar. Itulah pohon zaitun.
“Pohon zaitun itu,” tunjuk Athene, “akan menghasilkan makanan untuk manusia dan minyak untuk persembahan kepada para dewa. Pohon itu kuat, tahan terhadap segala cuaca, menghasilkan banyak buah, bahkan di atas tanah kering berbatu. Dan yang paling penting,” katanya, “pohon zaitun melambangkan perdamaian, sedangkan kuda melambangkan perang.” Tentu saja damai jauh lebih bergunadari pada perang untuk makhluk mortal seprti manusia. Meski pun tak ada satu pun dari para dewa yang mau mengalahkan Poseidon, mereka mengagumi ciptaannya, tetapi mereka harus mengakui bahwa Athene-lah pemenangnya. Pohon zaitun ciptaannya merupakan hadiah paling berharga dari para dewa kepad rakyat Yunani. Di tengah kegembiraan para dewa di Olympus, kota baru itu mendapatkan nama sekaligus dewi pelindung:.Athene, the Goddess of Good Councel.
Minggu, 08 Agustus 2010
Kisah Perempuan Kupu-Kupu
"Ibu alam semesta tidak terbatas dan hadir dalam kekekalan.”
Pada umumnya perempaun lebih mudah mencapai keilahian, secara potensial juga lebih dekat dengan pencerahan. Itu sebabnya dalam budaya kuno banyak ditemukan figur perempuan untuk menggambarkan realitas yang transenden itu. Realitas tanpa bentuk digambarkan sebagai rahim yang melahirkan segala sesuatu dalam penciptaan serta melanjutkan dan memeliharanya selama kehidupan berlangsung. .“ (Eckhart Tolle-the power of now). Membaca teks tersebut mengingatkan saya pada kisah-kisah perempuan pencinta kehidupan yang pernah saya bahas dalam talkshow di Smart FM beberapa tahun lalu. Berikut satu kisahnya:
"Bertahun-tahun para turis datang ke Puyė. Jalanan menuju tempat itu dulunya dibuat untuk penunggang kuda dan pejalan kaki yang mengenakan moccasin, sandal suku Indian. Tetapi waktu demi waktu berlalu, kini kendaraan berbagai jenis melewatinya, dengan penumpang bersepatu. Sebagian dari para turis itu telah terputus dari placenta sipritualnya. Mereka datang dengan berbagai harapan :ingin menyaksikan sesuatu yang tak terlupakan, untuk melihat hal-hal yang tak semua orang bisa melihatnya. Mereka ingin melihat the wildest of the wild, yakni Butterfly woman, Perempuan Kupu-kupu, dan tarian kupu-kupu yang ditampilkan pada bagian akhir. Semua orang menantikan tontonan ini dengan penuh semangat, menantikan tarian tunggal oleh seorang penari perempuan. Sebagian dari mereka membayangkan penarinya pastilah seorang gadis muda yang cantik, seperti yang pernah mereka saksikan di suku Zuni, tarian gadis muda dengan pakaian kuno berwarana merah dan hitam dengan salah satu bahu terbuka. Begitulah…waktu berlalu…..tidak seperti pertunjukan balet, di mana sesudah perkenalan, layar panggung lalu terbuka dan tarian pun mulai….tetapi ini…waktu lewat…..waktu berlalu lagi….dan lewat lagi….
Mereka hampir tak sabar, lelah menanti dan berkeluh kesah. Dan..tepat ketika matahari terbenam, tabuhan genderang pun bertalu-talu mengisyaratkan irama kupu-kupu, dan para penyanyi mendaraskan pujian kepada para dewa karena kebaikan mereka. Para turis membayangkan kupu-kupu akan muncul dalam figure yang halus,the fragile beauty yang mereka impikan. Tetapi, di sana di pusat perhatian, yang keluar adalah Maria Lujan, perempuan gemuk, sungguh-sungguh gemuk bagaikan Ibu Bumi. Maria Lujan ini, oh dia tua, sangat-sangat tua, seperti perempuan yang muncul dari debu, tua seperti sungai tua, seperti cemara tua. Salah satu bahunya telanjang, pakaian berupa mantel atau selimut berwarna merah dan hitam membungkus badannya. Dia melompat kian kemari, dialah si kupu-kupu yang datang untuk menguatkan yang lemah, dia, dengan penampilan tua, kupu-kupu, perempuan. Karakter yang sama sekali tidak menampilkan kekuatan, setidaknya begitu pandangan kebanyakan orang. Rambutnya yang panjang menyentuh tanah, berwarna abu-abu. Dia mengenakan sayap seperti sayap malaikat yang dikenakan pada anak-anak di malam natal. Lompatan kakinya tidak halus seperti kelinci, melainkan keras meninggalkan gema ”Aku di sini, aku di sini, aku membangunkanmu, kamu, kamu!” Sayapnya menebarkan serbuk ke bumi dan ke atas orang-orang di bumi. Anggota suku menyaksikannya dengan hormat. Tetapi para turis, mereka saling memandang satu sama lain, seraya berkata, ”Ini…inikah penari kupu-kupu itu?” Mereka bingung, yang lain kecewa. Bukankah perempuan dan kupu-kupu lebih cocok dengan gambaran indah, manis dan rapuh? Sukar merubah image, tak mudah kembali ke makna yang diberikan oleh alam, oleh nenek moyang kita. Para turis tampaknya telah lupa, bahwa dunia batin adalah tempat tinggal perempuan tua yang pengalamannya berlapis-lapis bagai kupu-kupu." (Dari Kumpulan dongeng Woman who Loves Life)
Pada umumnya perempaun lebih mudah mencapai keilahian, secara potensial juga lebih dekat dengan pencerahan. Itu sebabnya dalam budaya kuno banyak ditemukan figur perempuan untuk menggambarkan realitas yang transenden itu. Realitas tanpa bentuk digambarkan sebagai rahim yang melahirkan segala sesuatu dalam penciptaan serta melanjutkan dan memeliharanya selama kehidupan berlangsung. .“ (Eckhart Tolle-the power of now). Membaca teks tersebut mengingatkan saya pada kisah-kisah perempuan pencinta kehidupan yang pernah saya bahas dalam talkshow di Smart FM beberapa tahun lalu. Berikut satu kisahnya:
Perempuan Kupu-Kupu
Sahabat, kisah berikut sebenarnya bukan dongeng, melainkan cerita yang masih hidup hingga kini dalam suku yang terletak di Puyė, suatu daerah tak terkenal di dataran berdebu, di pedalaman New Meksiko. Kedekatan suku asli dengan insting alami kerap menjadi daya tarik tersendiri bagi para turis. Kisah berikut memperlihatkan perbedaan dua dunia dalam memandang simbol, dan kita diundang untuk menjalin hubungan dengan makna aslinya.
"Bertahun-tahun para turis datang ke Puyė. Jalanan menuju tempat itu dulunya dibuat untuk penunggang kuda dan pejalan kaki yang mengenakan moccasin, sandal suku Indian. Tetapi waktu demi waktu berlalu, kini kendaraan berbagai jenis melewatinya, dengan penumpang bersepatu. Sebagian dari para turis itu telah terputus dari placenta sipritualnya. Mereka datang dengan berbagai harapan :ingin menyaksikan sesuatu yang tak terlupakan, untuk melihat hal-hal yang tak semua orang bisa melihatnya. Mereka ingin melihat the wildest of the wild, yakni Butterfly woman, Perempuan Kupu-kupu, dan tarian kupu-kupu yang ditampilkan pada bagian akhir. Semua orang menantikan tontonan ini dengan penuh semangat, menantikan tarian tunggal oleh seorang penari perempuan. Sebagian dari mereka membayangkan penarinya pastilah seorang gadis muda yang cantik, seperti yang pernah mereka saksikan di suku Zuni, tarian gadis muda dengan pakaian kuno berwarana merah dan hitam dengan salah satu bahu terbuka. Begitulah…waktu berlalu…..tidak seperti pertunjukan balet, di mana sesudah perkenalan, layar panggung lalu terbuka dan tarian pun mulai….tetapi ini…waktu lewat…..waktu berlalu lagi….dan lewat lagi….
Mereka hampir tak sabar, lelah menanti dan berkeluh kesah. Dan..tepat ketika matahari terbenam, tabuhan genderang pun bertalu-talu mengisyaratkan irama kupu-kupu, dan para penyanyi mendaraskan pujian kepada para dewa karena kebaikan mereka. Para turis membayangkan kupu-kupu akan muncul dalam figure yang halus,the fragile beauty yang mereka impikan. Tetapi, di sana di pusat perhatian, yang keluar adalah Maria Lujan, perempuan gemuk, sungguh-sungguh gemuk bagaikan Ibu Bumi. Maria Lujan ini, oh dia tua, sangat-sangat tua, seperti perempuan yang muncul dari debu, tua seperti sungai tua, seperti cemara tua. Salah satu bahunya telanjang, pakaian berupa mantel atau selimut berwarna merah dan hitam membungkus badannya. Dia melompat kian kemari, dialah si kupu-kupu yang datang untuk menguatkan yang lemah, dia, dengan penampilan tua, kupu-kupu, perempuan. Karakter yang sama sekali tidak menampilkan kekuatan, setidaknya begitu pandangan kebanyakan orang. Rambutnya yang panjang menyentuh tanah, berwarna abu-abu. Dia mengenakan sayap seperti sayap malaikat yang dikenakan pada anak-anak di malam natal. Lompatan kakinya tidak halus seperti kelinci, melainkan keras meninggalkan gema ”Aku di sini, aku di sini, aku membangunkanmu, kamu, kamu!” Sayapnya menebarkan serbuk ke bumi dan ke atas orang-orang di bumi. Anggota suku menyaksikannya dengan hormat. Tetapi para turis, mereka saling memandang satu sama lain, seraya berkata, ”Ini…inikah penari kupu-kupu itu?” Mereka bingung, yang lain kecewa. Bukankah perempuan dan kupu-kupu lebih cocok dengan gambaran indah, manis dan rapuh? Sukar merubah image, tak mudah kembali ke makna yang diberikan oleh alam, oleh nenek moyang kita. Para turis tampaknya telah lupa, bahwa dunia batin adalah tempat tinggal perempuan tua yang pengalamannya berlapis-lapis bagai kupu-kupu." (Dari Kumpulan dongeng Woman who Loves Life)
***
Kamis, 05 Agustus 2010
Introduction 4-The Goddess'circle
(Untuk memahami keseluruhan ide mengenai The Goddes'circle, silakan Anda mengawalinya dari Introduction 1..dst....terima kasih telah berkunjung)
The Goddess’circle mengajak teman-temanku, kaum perempuan untuk menemukan dan menciptakan kisah-kisah kepahlawanan Anda sendiri, berpangkal dari kisah-kisah sesama perempuan sepanjang sejarah, dari dongeng dan mitologi yang terus bergema sepanjang dunia diciptakan. Bahwa kisah-kisah itu bergema di hati kita atau menggetarkan dawai jiwa kita, pastilah ada pesan di sana. Jadi layak diperhatikan dan didengarkan. Anda sedang diundang untuk bertemu dengan aspek yang selama ini rindu untuk Anda jumpai, aspek yang akan memenangkan dan membela Anda dalam hidup ini terhadap orang atau lingkungan yang menganiaya Anda, yang menghancurkan harga diri Anda, atau lebih buruk lagi, yang memaksa Anda untuk tidak perlu hidup, you should not exist at all!!...berapa banyak perempuan yang dipaksa bungkam dan menghilang dari peredaran?
Dengan mengenali Sang Dewi dalam diri kita, kita mampu menjalani hidup dengan wajah sejati kita, wajah cantik abadi yang tak lekang oleh usia dan waktu, wajah berhiaskan asesori yang dihimpun dari kekayaan pengalaman hidup. Seorang teman yang menemukan dan menjalani kisahnya sebagai pemenang pada usia tengah baya, kerap mendengar komentar orang lain,”You’re exquisitely beautiful....” Ya, saya setuju, sebab kecantikannya bukan dari emas yang dibeli dari luar, melainkan emas yang didulang dari lembah jiwanya. Cahayanya memancar. Perempuan yang setia berupaya menata dunia batiniah, ia bagaikan minuman anggur, semakin berumur semakin mengesankan. Tetapi kisah Sang Goddess tidak berhenti di sini.....ada banyak petualangan lain yang menjadikan hidup kita lebih bermakna, sendirian dan bersama. Petualangan Sang Goddess akan membawa banyak kesatria terpesona dan rela menempuh proses yang sama, menemukan image sejati mereka, wajah lelaki yang aman, terbebas dari keinginan untuk menguasai dan ketakutan untuk didominasi.
Alasan lain, mengapa penting terhubungkan kembali dengan aspek ilahi dalam dunia batiniah kita, dalah bahwa kita bertanggung jawab terhadap batin kita, sama seperti kita bertanggung jawab terhadap planet ini. ”Jika manusia mau membersihkan pencemaran batin mereka, mereka juga akan berhenti membuat pencemaran di luar diri mereka.” Kalimat itu saya kutip dari Eckhart Tolle, dalam The Power of Now, senada dengan kerinduan batin saya saat ketika mengumpulkan dongeng-dongeng pengolah jiwa yang saya beri judul Woman who loves life (Pernah disiarkan dalam talkshow di rd.Smart FM), dan saya tulis dalam pengantarnya:” Penelusuran makna dongeng ini, saya persembahkan kepada sahabat-sahabat yang mencintai kehidupan dan pantang menyerah mewujudkan suatu dunia, menjadi belantara yang nyaman di huni, di mana domba dan singa dapat bermain bersama dan bayi-bayi memperoleh tatapan cinta dari makhluk di sekelilingnya, dan hati semua makhluk (termasuk hati saya dan Anda) berdetak mengatakan,”Demi cintaku padamu, kucintai diriku, hidupku dan duniaku”
Let’s create our own story....create our own kingdom
Dewi Minangsari
Introduction 3 - The Goddess'Circle
Terkait dengan proses penemuan diri pemenang, inilah pengalamanku menemukan diri sejati, sang pemenang, melalui kisah Putri Abu. Kisah ini sering kubaca ketika masih kecil, hati kanak-kanakku yang murni terketuk oleh rasa iba kepadanya. Ketika dewasa, saat aku patah, aku menyaksikan di TV berbahasa Jerman, kisah si putri abu dengan judul aslinya kalau tidak salah Aschenputtel. Saat itu aku bergulat dengan rasa simpati terhadap si putri abu, tanpa mampu memaknainya lebih dalam. Puluhan tahun kemudian, ketika pengalaman perpisahan mematahkan hatiku lagi, pastilah bukan kebetulan, seseorang memberiku buku koleksi lengkap Grimm bersaudara, dan di sana kubaca si Aschenputtel. Kisahnya masih sama, tetapi kutemukan versinya sendiri dalam hidupku, begini kisahnya:
"Pada masa remaja, si Putri Abu mengalami perlakukan buruk dari kakak dan ibunya. Perlakuan itu terasa bagaikan lemparan abu pada wajahnya yang cantik, semuanya mengandung pesan, ’Kamu tidak pantas hidup, kamu tidak usah hidup, kamu hanya menambah beban, kamu menyusahkan kami..” Pesan itu barangkali tidak nyata, tetapi terekam dalam nubari si Putri Abu. Wajah dan perilaku mereka memperlihatkan kebencian mendalam akan kehadiran si Putri Abu.
Saat usianya tengah baya, Putri Abu merasakan sebuah pesan menusuk hati dari tatapan mata adik perempuannya. Sang adik memandang Putri Abu sebagai makhluk yang memalukan, karena ia tidak punya apa-apa dan siapa-siapa. Putri Abu tidak punya suami, ia hidup sendirian dan tak punya apa-apa untuk diandalkan oleh keluarganya. Di mata adik perempuannya yang lain, ia hanyalah makhluk menjijikkan, ” You’re nothing, Pergilah engkau dari hadapanku, engkau tak perlu ada, engkau tidak ada artinya.”
Hanya di mata bapaknya Putri Abu melihat cinta dan penerimaan. Dari bapaknya ia mengalami pembelaan. Di matanya Putri Abu merasa ia sangat berharga. Putri Abu teringat waktu kecil, bapak menggendongnya di bahunya, bapak mengiriminya buku-buku cerita, dia membelikan Putri Abu baju-baju saat ia remaja, ketika bapak melihatnya tak mampu bersuara meminta haknya pada ibunya, hak yang sudah direbut oleh kakak perempuannya.
Alam semesta tidak pernah tinggal diam. Ibu Kehidupan, perempuan pencinta hidup datang menyelamatkannya. Ia menerobos ke permukaan samudera jiwa si Putri Abu. Ia muncul dalam wujud sang Princess. Dalam wujud ini kehidupan berada di pihak Putri Abu. Saat ia dianiaya oleh saudari-saudari dan ibunya, sang Princess tampil tabah dan anggun. Ia menerima perendahan dan penolakan dengan besar hati. Wajahnya tetap ramah dan hatinya tetap mencintai. Ketika ia dihancurkan dan hampir mati, Ibu Kehidupan malah membawanya kembali ke tanah air sejatinya, ke kerajaan di mana sepantasnya ia berada. Kini Putri Abu dengan bangga berkata pada dirinya sendiri 'Aku, The Princess Goddess of Love.' "
Pengalaman kegembiraan dan kekuatan dari sang Princess, kuceritakan ke pada teman-teman perempuan. Kisahku bergema juga dalam pengalaman hidup mereka. Aku mendengar kisah-kisah pemenang lain dari mereka. Maka terpikir olehku untuk menciptakan The Goddess’circle, sebuah wadah bagi kaum perempuan untuk mengolah dirinya. Dengan berbagi kisah, atau membuat kisah dari kisah, akan semakin jelas bagi kita fase-fase hidup yang kita lalui, jelas pula buah kehidupan yang kita nikmati, jernih pula arah kehidupan yang kita tuju. Kita semua di bawa untuk menjadi makhluk ilahi, Sang Dewi - The Goddess, image sejati kita.
Keinginanku, agar kita, saya dan Anda, tidak membiarkan kehidupan berlalu tanpa memetik buah-buah kehidupan yang disediakan sang Pencipta, ’Ia menghendaki kita hidup dan hidup dalam kelimpahan'
(continued- to Introduction 4 The Goddess'circle)
Kisah Putri Abu-Aschenputtel
Saat usianya tengah baya, Putri Abu merasakan sebuah pesan menusuk hati dari tatapan mata adik perempuannya. Sang adik memandang Putri Abu sebagai makhluk yang memalukan, karena ia tidak punya apa-apa dan siapa-siapa. Putri Abu tidak punya suami, ia hidup sendirian dan tak punya apa-apa untuk diandalkan oleh keluarganya. Di mata adik perempuannya yang lain, ia hanyalah makhluk menjijikkan, ” You’re nothing, Pergilah engkau dari hadapanku, engkau tak perlu ada, engkau tidak ada artinya.”
Hanya di mata bapaknya Putri Abu melihat cinta dan penerimaan. Dari bapaknya ia mengalami pembelaan. Di matanya Putri Abu merasa ia sangat berharga. Putri Abu teringat waktu kecil, bapak menggendongnya di bahunya, bapak mengiriminya buku-buku cerita, dia membelikan Putri Abu baju-baju saat ia remaja, ketika bapak melihatnya tak mampu bersuara meminta haknya pada ibunya, hak yang sudah direbut oleh kakak perempuannya.
Alam semesta tidak pernah tinggal diam. Ibu Kehidupan, perempuan pencinta hidup datang menyelamatkannya. Ia menerobos ke permukaan samudera jiwa si Putri Abu. Ia muncul dalam wujud sang Princess. Dalam wujud ini kehidupan berada di pihak Putri Abu. Saat ia dianiaya oleh saudari-saudari dan ibunya, sang Princess tampil tabah dan anggun. Ia menerima perendahan dan penolakan dengan besar hati. Wajahnya tetap ramah dan hatinya tetap mencintai. Ketika ia dihancurkan dan hampir mati, Ibu Kehidupan malah membawanya kembali ke tanah air sejatinya, ke kerajaan di mana sepantasnya ia berada. Kini Putri Abu dengan bangga berkata pada dirinya sendiri 'Aku, The Princess Goddess of Love.' "
Pengalaman kegembiraan dan kekuatan dari sang Princess, kuceritakan ke pada teman-teman perempuan. Kisahku bergema juga dalam pengalaman hidup mereka. Aku mendengar kisah-kisah pemenang lain dari mereka. Maka terpikir olehku untuk menciptakan The Goddess’circle, sebuah wadah bagi kaum perempuan untuk mengolah dirinya. Dengan berbagi kisah, atau membuat kisah dari kisah, akan semakin jelas bagi kita fase-fase hidup yang kita lalui, jelas pula buah kehidupan yang kita nikmati, jernih pula arah kehidupan yang kita tuju. Kita semua di bawa untuk menjadi makhluk ilahi, Sang Dewi - The Goddess, image sejati kita.
Keinginanku, agar kita, saya dan Anda, tidak membiarkan kehidupan berlalu tanpa memetik buah-buah kehidupan yang disediakan sang Pencipta, ’Ia menghendaki kita hidup dan hidup dalam kelimpahan'
(continued- to Introduction 4 The Goddess'circle)
Introduction 2- The Goddes'Circle
Dahulu kala memasuki fase-fase hidup merupakan hal penting dan bermakna, maka ditandai dengan suatu upacara sakral yang melibatkan seluruh warga kampung atau komunitas. Dalam upacara itu disampaikan ajaran-ajaran dari para sesepuh yang telah menempuh fase-fase lanjut dalam kehidupan ini. Penyampaian ajaran melalui tarian, musik dan nyanyian. Melalui proses inisiasi ini kekayaan nilai diwariskan turun temurun dan dihayati dalam masyarakatnya. Tidak itu saja, melalui proses itu seseorang dibantu untuk akrab dengan dunia batiniahnya, tempat keberadaan ilahi.
Inisiasi memasuki fase-fase hidup termuat juga dalam berbagai dongeng atau mitologi. Antara lain dongeng Putri Psike, dongeng The Handless Maiden atau kisah Si Penggembala Angsa yang dapat Anda baca dari buku-buku dongeng. Kisah-kisah itu umumnya memperlihatkan proses pematangan jiwa perempuan melalui perjumpaan dengan nenek tua di tengah hutan, manusia bijak di tengah hutan , dll. Yang semua memperlihatkan simbol adanya sang bijak, sang guru, yang ilahi di rumah jiwa yang mengajar kita tentang kehidupan dan kembali menghadapi kenyataan hidup dengan hati lebih kaya. Perempuan yang menempuh peroses itu mengalami transformasi menjadi diri sejati yang sifatnya spiritual. Proses-proses inisiasi itu bagi saya menegaskan bahwa kualitas ilahi sudah ada dalam diri kita. Kita tinggal menemukannya.
Proses menemukan diri sejati yang spiritual ini merupakan perjalanan wajib. Setiap perempuan merasakan dorongan ini, entah kuat atau mungkin sangat lemah. Lingkungan turut mempengaruhi kuat lemahnya dorongan mengalami transformasi spiritual ini. Kultur-kultur yang kaku dan menomorduakan peran perempuan, membuat perempuan terhambat mendengarkan suara diri sejatinya atau malahan kehilangan kemampuan itu sama sekali. Perempuan menjadi boneka hidup yang di tarik ke sana sini oleh banyak manusia yang membutuhkan cintanya, sampai ia mengabaikan kehidupan jiwanya sendiri. Legenda, dongeng, mitologi menjadi cermin perjalanan jiwa kita yang merindukan kemurnian batin.
The Goddess’Circle merupakan upaya sesama perempuan untuk saling berbagi dan saling mendukung agar tercipta kisah-kisah kita sendiri, kisah suka dan duka, yang di dalamnya melintas jejak-jejak Sang Dewi, si pemenang yang mampu mengatasi berbagai cobaan berat untuk menemukan kekasih jiwanya.
(continued..to The Goddess'Circle - Introduction 3
The Goddess'Circle-Introduction 1
The Goddess'Circle berawal dari sebuah legenda Yunani kuno bernama Putri Psike. Kisah hidup sang putri dikisahkan cukup panjang, ada beberapa fase dengan judul-judul sebagai berikut:
♥ Putri Psike Mengakhiri Masa Lajang: Menikah dengan Kematian
♥ Putri Psike menikah dengan Dewa Eros: Bangun dari Surga Palsu
♥ Putri Psike dan Dewa Pan : Hening merupakan pintu ke aspek kreatif
♥ Putri Psike dan Semut Penolong: Perempuan harus memilih
♥ Gelagah, Sang Sahabat : Meraih tujuan tanpa kekerasan
♥ Putri Psike dan Air Kehidupan: Fokus untuk mencapai tujuan
♥ Putri Psike dan Menara Penolong: Belajar menolak, demi menyelamatkan jiwa
Kisah panjang itu saya ringkas bunyinya demikian:
Sejak itu, tahap demi tahap ia menjalani berbagai tempaan hidup, semakin lama semakin sukar. Tempaan itu diberikan oleh Dewi Aprodite. Kegagalan melaksanakan tugas tentu membawanya ke kematian. Tetapi Putri Psike bertekad menemukan kembali cintanya, Dewa Eros. Petualangan melaksanakan tugas-tugas berat, memunculkan berbagai aspek kakuatan dirinya. Ia semakin diperkaya, semakin dewasa.
Apa maknanya untuk kita?
(continued - to Introduction 2...)
♥ Putri Psike Mengakhiri Masa Lajang: Menikah dengan Kematian
♥ Putri Psike menikah dengan Dewa Eros: Bangun dari Surga Palsu
♥ Putri Psike dan Dewa Pan : Hening merupakan pintu ke aspek kreatif
♥ Putri Psike dan Semut Penolong: Perempuan harus memilih
♥ Gelagah, Sang Sahabat : Meraih tujuan tanpa kekerasan
♥ Putri Psike dan Air Kehidupan: Fokus untuk mencapai tujuan
♥ Putri Psike dan Menara Penolong: Belajar menolak, demi menyelamatkan jiwa
Kisah panjang itu saya ringkas bunyinya demikian:
“ Dahulu kala, adalah sebuah kerajaan yang rakyatnya sejahtera karena dipimpin oleh Raja dan Ratu bijaksana. Raja dan Ratu memiliki tiga putri yang cantik jelita. Ketika mereka dewasa, putri pertama dan kedua dengan mudah mendapatkan jodoh. Mereka menikah, yang satu dengan seorang pangeran dari kerajaan tetangga, dan yang lain dengan Raja muda dari negeri seberang. Tinggalah putri Psike menunggu saat ia dapat mengikuti jejak kakak-kakaknya, menikah dan membangun keluarganya sendiri. Banyak pangeran, raja muda, kesatria, dan lelaki muda hebat yang berkunjung ingin melamar sang putri yang kecantikannya terkenal luas. Mereka terpesona, mereka terpikat, tetapi tak ada satu pun yang mengajukan lamaran. Tampaknya mereka memandang Putri Psike bagaikan memandang dewi sungguhan, makhluk cantik, mempesona, dikagumi dan dipuja tapi tidak untuk dimiliki. Memang banyak orang mengaitkannya dengan seorang dewi sungguhan, yakni Dewi Aprodite.
Tentu saja putri Psike merasa sangat menderita dan kesepian. Raja dan permaisuri pun pun resah. Mereka akhirnya pergi menemui peramal terkenal di Delphi hanya untuk lebih berduka, karena ramalan menyatakan Putri Psike akan menikah dengan seornag lelaki bernama Kematian. Seperti namanya, menikahinya berarti mati. Raja dan Ratu tak bertanya mengapa si cantik mesti mati pada hari perkawinannya. Orang Yunani kuno menganggap jawaban peramal di Delphi sebagai kebenaran mutlak. Begitulah, mereka menyiapkan upacara perkawinan sekaligus prosesi kematian. Putri Psike diarak menuju puncak gunung diiringi kepedihan hati para pengiring dan tangis kedua orang tuanya. Di sana dia diikat dan ditinggalkan.
Putri Psike memang harus mati tetapi kematian tersebut dirancang oleh Dewi Aprodite yang cemburu oleh kecantikan sang putri. Dewi Aprodhite menyuruh puteranya, Dewa Eros untuk memanah Putri Psike, dengan anak panah yang dapat menyalakan cinta di hati Psike terhadap makhluk mengerikan yang akan memangsanya hingga mati. Dewa Eros menuju ke tempat Putri Psike. Tetapi saat ia memasang anak panah dan menatap sekilas ke arah Psike, Eros mendadak gugup, dan tak sengaja ujung anak panahnya menusuk jarinya sendiri .Jadilah ia sendiri yang jatuh cinta pada Putri Psike. Dewa Eros memutuskan untuk menikahi Putri Psike dan meminta sahabatnya, Angin Barat, untuk menurunkan Putri Psike ke Lembah Surgawi. Ketika Psike menyadari apa yang terjadi, ia terdiam, tak menanyakan apa-apa. Terbebaskan dari kematian saja tak terbayangkan, apa lagi kini berada di tempat indah, dengan para pelayan cantik dan musik mengalun indah… dan suaminya, Eros menemaninya setiap malam. …too good to be true. Eros, sang suami mengajukan satu syarat kepada Psike,”Please, jangan pernah bertanya tentang diriku, jangan pernah menatap wajahku,jangan pernah bertanya tentang apa yang kulakukan, kalau engkau ingin aku selalu di sampingmu.“ Permintaan itu tentu saja diturutinya.
Suatu hari para saudari Psike berkunjung. Mereka saling bertanya dan berbagi ceritera. “Bagaimana Dik, suamimu, kayak apa sih dia, ganteng? Baik? Psike menjawab,”Aku tak tahu apa-apa, aku tak boleh bertanya, tidak boleh melihat wajahnya, pertemuan kami selalu di malam hari, dalam kegelapan. Saat siang, ia pergi, entah kemana..…” Saudari perempuannya yang iri akan kebahagiaan Psike, terus mendesak,.”Engkau aneh, jangan-jangan suamimu makhluk mengerikan,. kog mau sih diam saja! Kat-kata itu menggelitik hati Psike. Dan suatu malam, ketika Eros tengah pulas tertidur dalam gelap, Psike diam-diam manyalakan lampu minyak…mendekatkannya ke wajah Eros. Malang, minyak panas menetes ke bahu Eros. Eros terbangun….karena Dewa, ia terbang dan lenyap seketika. Putri Psike sedih bukan main. Rasa kehilangan mendalam telah membuka pintu jiwanya untuk memasuki saat-saat kelam demi mendapatkan kembali kekasihnya.
Sejak itu, tahap demi tahap ia menjalani berbagai tempaan hidup, semakin lama semakin sukar. Tempaan itu diberikan oleh Dewi Aprodite. Kegagalan melaksanakan tugas tentu membawanya ke kematian. Tetapi Putri Psike bertekad menemukan kembali cintanya, Dewa Eros. Petualangan melaksanakan tugas-tugas berat, memunculkan berbagai aspek kakuatan dirinya. Ia semakin diperkaya, semakin dewasa.
Tugas terakhir dan tersulit adalah mengambil minyak kecantikan di dunia bawah. Kali ini pun ia berhasil. Ketika tiba di bumi, entah bagaimana tiba-tiba ia dikuasai oleh rasa ingin tahu dan penasaran,”Minyak kecantikan ini begitu berharga bagi Dewi Aprodite, mengambilnya saja sudah setengah mati….kalau begitu, mengapa tidak kuambil saja untuk diriku sendiri..?” Dengan pikiran itu ia membuka tutup guci ….dan…bukannya aroma kecantikan yang dihirupnya dari dalam guci, melainkan aroma yang membuatnya jatuh tertidur. Psike jatuh dan terbaring di tanah seakan ia mati. ..nyawanya terancam…Eros, merasakan keadaan bahaya yang dialami Psike, ia bergegas menemui Psike, menghapus minyak tidur tadi dan menutup guci. Lalu digendongnya Psike, menuju puncak gunung Olimpus, di mana Zeus telah menanti. Eros memohon kepada Zeus agar menjadikan Psike sebagai Dewi. Zeus tak menolak, demikian pula Aprodite yang akhirnya puas oleh apa yang dilakukan Psike. Semua dewa-dewi setuju…mereka menikah dan pada waktunya Psike melahirkan anak yang mereka beri nama Pleasure, kenikmatan......”
Perjalanan sang putri merupakan proses transformasi jiwa menjadi makhluk spiritual, yang dalam legenda dinyatakan sebagai the goddess.Apa maknanya untuk kita?
(continued - to Introduction 2...)
Langganan:
Postingan (Atom)