Lebaran telah usai, tapi gemanya dapat abadi ketika CINTA mewarnai hati. Adalah seorang gadis kecil yang hidup di suatu negeri yang sedang ditimpa kekeringan dan rakyatnya sekarat. Ia biasa di panggil, Yang Sendirian, karena ia suka menyendiri. Dalam keputusasaan penduduk memanggil Roh Agung mohon pertolongan. “Roh Agung, tanah kami sekarat, dan rakyat kami hampir musnah. Hentikanlah kemarau panjang ini dan selamatkanlah rakyatMu, karena tak ada lagi yang tersisa dari kami.” Mereka mengajukan doa dengan tarian dan nyanyian. Si gadis kecil mengamati orang-orang yang sedang berdoa itu, sambil memeluk boneka yang mirip dirinya. Itulah satu-satunya teman yang memberinya kekuatan dalam masa sulit dan kelaparan.
Roh Agung akhirnya memberi pencerahan,bunyinya,”Hai manusia, selama banyak generasi kalian mengambil apa saja yang kalian butuhkan dari bumi, tetapi kalian, manusia, tak pernah sekali pun memberi kembali kepada bumi. Sekarang bumi tertekan dan memerlukan pengorbanan dari kalian. Berikanlah sesuatu yang paling berharga dalam hidup kalian, persembahkan itu sebagai kurban bakaran lalu abunya sebarkan keempat arah mata angin. Jika itu terlaksana , maka hujan akan turun dan bumi akan pulih kembali.”
Penduduk yang memahami pesan itu, segera kembali ke pondok masing-masing untuk menemukan benda paling berharga mereka. Seorang pemanah menemukan busur, tetapi katanya,”Pastilah Roh Agung tidak menginginkan busurku ini.” Seorang dukun yang sangat mencintai tanaman obat-obatan, berkata:”Ah, Aku tahu Roh Agung tidak akan meminta tanaman ini.” Seorang ibu yang sayang sekali pada selimut tebalnya, berkata”Ah mana mungkin Roh Agung menginginkan selimut ini.”
Begitulah semua orang menemukan alasan untuk tidak memberikan benda berharga mereka. Sementara bencana makin parah dan banyak manusia sekarat. Keadaan itu menggerakkan hati si gadis kecil. Segera ia mengambil bonekanya dan berkata,”Bonekaku sayang, Roh Agung menginginkanmu,” Dan malam hari ia mempersembahkan boneka kesayangannya, merelakan boneka itu dimakan api. Sambil menangis ia berkata,”Roh Agung, boneka ini, hadiah ibuku sebelum ia meninggal, boneka ini paling berharga dalam hidupku, terimalah.” Airmatanya terus mengalir ketika ia menebarkan abu ke empat penjuru bumi. Ia membayangkan wajah orang-orang tercinta yang telah meninggal karena bencana di kampungnya. Esok hari, ketika ia terbangun, …tetes hujan pertama jatuh membasahi wajahnya…rakyat pun bersuka cita dan selamat dari bencana. Sejak hari itu, ia dinamakan,”Dia Yang Mencintai.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar