Isis adalah dewi pelindung, dikenal sebagai isteri yang setia, ibu yang ideal, sang penyembuh, pembangkit orang mati, dewi pelindung anak-anak dan dewi kesuburan, lebih cerdas dari sejuta dewa.
Suatu ketika, Osiris dalam perkelahiannya dengan Seth, ia kalah dan mati terbunuh. Isis dengan kekuatan magisnya, berubah menjadi layang-layang, mengebaskan kedua sayapnya untuk memberi napas pada tubuh Osiris, sehingga Osiris hidup kembali. Ketika napas mereka menyatu, Isis hamil dan beberapa waktu kemudian melahirkan seorang putra bernama Horus. Isis membesarkan anaknya dengan sepenuh hati, memberinya cinta dan segala potensi yang kelak membuat Horus tumbuh sebagai lelaki kuat dan berhasil membalas kekalahan ayahnya terhadap Seth.
Sahabat, dalam diri sang dewi, Isis, kita melihat aspek feminin yang mampu menghidupkan lelaki. Tidak itu saja, daya kehidupan keduanya mewujud dalam diri seorang putera, yang kelak mampu memenangkan perjuangan yang dulu gagal dilakukan oleh sang ayah. Makna penting dalam kisah ini menurut saya, Isis mengepakkan sayap, untuk memberi napas kepada lelaki yang dipilihnya. Berbeda dengan pandangan selama ini, bahwa perempuan memelihara kecantikan karena dirinya adalah aset untuk dipilih oleh lelaki idaman. Pandangan yang bahkan sampai sekarang masih dihayati oleh banyak keluarga. Kadang saya geli membaca iklan tentang menghilangkan bulu di kaki, menghilangkan noda hitam di pangkal paha...dan tempat-tempat istimewa lainnya di tubuh perempuan. Dan makin geli mendengar seorang ibu membawa anak gadisnya ke salon kecantikan untuk melaser bulu di ketiak..(hmm..jangan tanya biayanya). Melindunginya sedemikian rupa dari kerasnya kehidupan, dari teriknya mentari, dari repotnya mengurus rumah tangga. Menyediakan tenaga, supir dan pembantu, kalau perlu dirinya sendiri untuk mengambil alih apa yang seharusnya dapat dilakukan oleh anak.Saya tidak melarang, hanya prihatin kalau perilaku proteksi berlebihan menjadi porsi yang besar dalam membesarkan seorang anak.
Cinta perempuan bukan kasih yang melumpuhkan, melainkan memerdekakan. Cinta yang cerdas membantu anak mampu menatap ke dalam batinnya sendiri, bukan menatap iklan dan meniru kecantikan sesaat yang dipamerkan dunia industri. Perempuan yang cantik dengan kecerdasan sejuta dewa, memampukan kekasih dan anak menjadi pemenang dalam kehidupannya. Ia mampu melakukan semua itu, karena ia mengandalkan kekuatan magis dalam dirinya. Kabar gembiranya, Anda mempunyainya, Anda hanya tinggal menyediakan waktu dan sapalah Sang Maha Cerdas dalam diri Anda. Terima kasih dongeng, untukku ia mengingatkan lagi dan lagi pada sang magis dalam diriku...untuk mencerahkan batinku...semoga.
Salam,
Dewi Minangsari
The Goddess'Circle
Because the goddess in you has long been waiting to be recognized....and because you're so loved by her...find your eternal beauty in the circle of goddess.
Selasa, 24 Mei 2011
Selasa, 05 Oktober 2010
The Goddess of Dawn & The Prince of Troy
Cinta abadi di tubuh yang fana.
Alkisah Ares, salah satu dari sekian banyak kekasih Dewi Aphrodite, jatuh cinta pada Eos, the goddess of dawn, sang Dewi Cahaya Pagi. Suatu hari Aphrodite mendapati keduanya sedang berduaan, dan ia cemburu bukan main. Ia segera mengeluarkan kutukan, bahwa Eos tak akan pernah bisa jatuh cinta lagi kepada para dewa, Eos hanya bisa jatuh cinta kepada manusia.
Kutukan segera menjadi kenyataan. Eos jatuh cinta pada pangeran tampan dari kerajaan Troy, bernama Tithonus. Keduanya sangat bahagia bersama. Mereka tak mampu membayangkan hidup terpisah kala maut menjemput Tithonus yang fana. Oleh akrena itu Eos mengabulkan permintaan Tithonus untuk bisa hidup selamanya. Pada mulanya segalanya terasa indah, mereka muda, sehat, penuh gairah hidup. Tetapi tubuh fana Tithonus semakin lama semakin lemah dan rapuh, sehingga hidup dengan umur panjang hanya membuatnya semakin menderita tak tertanggungkan. Akhirnya, ia memohon pada Eos agar dapat melepasnya mati dalam damai. Sudah menjadi hukum di dunia para dewa, bahwa anugerah dari dewa-dewi tidak bisa dibatalkan. Eos dalam keputusasaannya menghadap Dewa Zeus, berharap ia dapat melakukannya, tapi harapan itu sia-sia. Akhirnya, karena Tithonus tak bisa terus hidup pun mati, maka berubahlah ia menjadi seekor jengkerik. Sejak itu setiap subuh menjelang, ia membunyikan suaranya dengan nyaring menyapa bekas kekasihnya, dewi Cahaya Pagi.
Alkisah Ares, salah satu dari sekian banyak kekasih Dewi Aphrodite, jatuh cinta pada Eos, the goddess of dawn, sang Dewi Cahaya Pagi. Suatu hari Aphrodite mendapati keduanya sedang berduaan, dan ia cemburu bukan main. Ia segera mengeluarkan kutukan, bahwa Eos tak akan pernah bisa jatuh cinta lagi kepada para dewa, Eos hanya bisa jatuh cinta kepada manusia.
Kutukan segera menjadi kenyataan. Eos jatuh cinta pada pangeran tampan dari kerajaan Troy, bernama Tithonus. Keduanya sangat bahagia bersama. Mereka tak mampu membayangkan hidup terpisah kala maut menjemput Tithonus yang fana. Oleh akrena itu Eos mengabulkan permintaan Tithonus untuk bisa hidup selamanya. Pada mulanya segalanya terasa indah, mereka muda, sehat, penuh gairah hidup. Tetapi tubuh fana Tithonus semakin lama semakin lemah dan rapuh, sehingga hidup dengan umur panjang hanya membuatnya semakin menderita tak tertanggungkan. Akhirnya, ia memohon pada Eos agar dapat melepasnya mati dalam damai. Sudah menjadi hukum di dunia para dewa, bahwa anugerah dari dewa-dewi tidak bisa dibatalkan. Eos dalam keputusasaannya menghadap Dewa Zeus, berharap ia dapat melakukannya, tapi harapan itu sia-sia. Akhirnya, karena Tithonus tak bisa terus hidup pun mati, maka berubahlah ia menjadi seekor jengkerik. Sejak itu setiap subuh menjelang, ia membunyikan suaranya dengan nyaring menyapa bekas kekasihnya, dewi Cahaya Pagi.
Selasa, 21 September 2010
Trouble entri "Dia yang Mencintai" dan "Mahkota Dewa"
Entri saya bulan September, "Dia yang mencintai" dan "Mahkota Dewa"...kog tidak terlihat ya...tapi Anda dapat membacanya dengan meng-klik blog berjudul artikel2 tersebut yang saya share ke facebook saya. Sorry...and thanks.
Mahkota Dewa
Pagi ini seperti biasanya, selepas jalan pagi, aku duduk menghadap taman depan jendela kamarku sambil menghirup secangkir kopi panas dan melahap beberapa biskuit. Seperti biasanya juga mataku menyapa pohon Mahkota Dewa dan bunga Lilin kuning, Kamboja merah jambu, Nusa Indah putih, Soka merah tua. Tiada henti aku terpesona, betapa awetnya bunga-bunga itu, berbulan-bulan entah hujan entah panas, bunga itu tetap setia menebarkan keindahannya. Itulah santapan pagi yang kulahap dengan syukur, kusapa dengan cinta, dan membawaku pada kesadaran akan kehadiran Sang Pencipta.
Namun....ada yang beda hari ini, itu sebabnya aku tergerak membuka laptopku untuk menuliskannya. Saat mataku menelusuri kehijauan pepohonan dan rumput serta dedaunan, mendadak mataku melihat bunga-bunga putih kecil bertumpukan menutupi dahan dan ranting Mahkota Dewa, bahkan dahan yang tampaknya sudah mati, karena ranting-rantingnya terkulai patah, di pangkalnya kulihat deretan bunga-bunga putih....begitu indah, menakjubkan. Kemarin rasanya ranting dan dahan itu tidak menampakkan sesuatu yang istimewa, mungkin aku tak menyadarinya, karena dahan dan ranting itu agak tertutup dedaunan. Tampaknya hujan yang terus menerus mengguyur bumi kemarin merupakan berkah bagi Mahkota Dewa, memberinya nutrisi untuk mendorong munculnya daya hidup baru yang menghiasi dahan dan rantingnya...dan sebentar lagi, akan menjadi buah-buah merah yang di sana sini telah muncul, menempel di dahan dan ranting.
Aku merasa tersindir. Baru saja aku memberikan seember pakaian kotor yang habis kupakai kemarin kepada ‘Si Mbak’. Kepadanya aku mengeluh, 'Mbak celana panjangku yang hitam ini kotor lho, kemarin hujan deras, banjir sebetis, gile deh..kaki saya dan celana ini terendam air ...jadi kotor sekali, tolong didulukan ya nyucinya” Sambil mengingat pengalaman kemarin sore, saat aku kebingungan kejebak banjir di jalan Sudirman, aku hendak mengajar, sudah berpakaian rapih dengan sepatu yang baru pertama kali kupakai, sepatu berhak tebal, sengaja kubeli untuk musim hujan, agar setidaknya kakiku terlindung dari air di jalanan....e..eh...kali ini air merendam hak tebal sepatu, plus celana panjang hitamku...Kemarin di ruang sekretariat, kebanyakan kami berkeluh kesah tentang hujan di Jakarta, selalu ada banjir, kotor, macet, baju basah kuyup,mahasiswa dan dosen telat,dst.
Kemarin kami mengeluh..pagi ini, Mahkota Dewa dengan bunga-bunga bercahaya di dahan yang tampak mati, bercerita kepadaku, “Aku bahagia...hujan memberiku semangat untuk melahirkan bunga dan buah-buah....hujan membantuku hidup sepenuhnya....”
Hari ini..aku bersyukur, Mahkota Dewa membantuku menjalani hidup dengan caranya, ia menerima ....apa yang diberikan alam sahabatnya, dan menari bersamanya. Ya pastilah mereka menari, karena mereka tampak bersinar, ceria, bersemangat. Terima kasih Mahkota Dewa.
(Dewi Minangsari 22-9-2010)
Namun....ada yang beda hari ini, itu sebabnya aku tergerak membuka laptopku untuk menuliskannya. Saat mataku menelusuri kehijauan pepohonan dan rumput serta dedaunan, mendadak mataku melihat bunga-bunga putih kecil bertumpukan menutupi dahan dan ranting Mahkota Dewa, bahkan dahan yang tampaknya sudah mati, karena ranting-rantingnya terkulai patah, di pangkalnya kulihat deretan bunga-bunga putih....begitu indah, menakjubkan. Kemarin rasanya ranting dan dahan itu tidak menampakkan sesuatu yang istimewa, mungkin aku tak menyadarinya, karena dahan dan ranting itu agak tertutup dedaunan. Tampaknya hujan yang terus menerus mengguyur bumi kemarin merupakan berkah bagi Mahkota Dewa, memberinya nutrisi untuk mendorong munculnya daya hidup baru yang menghiasi dahan dan rantingnya...dan sebentar lagi, akan menjadi buah-buah merah yang di sana sini telah muncul, menempel di dahan dan ranting.
Aku merasa tersindir. Baru saja aku memberikan seember pakaian kotor yang habis kupakai kemarin kepada ‘Si Mbak’. Kepadanya aku mengeluh, 'Mbak celana panjangku yang hitam ini kotor lho, kemarin hujan deras, banjir sebetis, gile deh..kaki saya dan celana ini terendam air ...jadi kotor sekali, tolong didulukan ya nyucinya” Sambil mengingat pengalaman kemarin sore, saat aku kebingungan kejebak banjir di jalan Sudirman, aku hendak mengajar, sudah berpakaian rapih dengan sepatu yang baru pertama kali kupakai, sepatu berhak tebal, sengaja kubeli untuk musim hujan, agar setidaknya kakiku terlindung dari air di jalanan....e..eh...kali ini air merendam hak tebal sepatu, plus celana panjang hitamku...Kemarin di ruang sekretariat, kebanyakan kami berkeluh kesah tentang hujan di Jakarta, selalu ada banjir, kotor, macet, baju basah kuyup,mahasiswa dan dosen telat,dst.
Kemarin kami mengeluh..pagi ini, Mahkota Dewa dengan bunga-bunga bercahaya di dahan yang tampak mati, bercerita kepadaku, “Aku bahagia...hujan memberiku semangat untuk melahirkan bunga dan buah-buah....hujan membantuku hidup sepenuhnya....”
Hari ini..aku bersyukur, Mahkota Dewa membantuku menjalani hidup dengan caranya, ia menerima ....apa yang diberikan alam sahabatnya, dan menari bersamanya. Ya pastilah mereka menari, karena mereka tampak bersinar, ceria, bersemangat. Terima kasih Mahkota Dewa.
(Dewi Minangsari 22-9-2010)
Minggu, 19 September 2010
Dia Yang Mencintai
Lebaran telah usai, tapi gemanya dapat abadi ketika CINTA mewarnai hati. Adalah seorang gadis kecil yang hidup di suatu negeri yang sedang ditimpa kekeringan dan rakyatnya sekarat. Ia biasa di panggil, Yang Sendirian, karena ia suka menyendiri. Dalam keputusasaan penduduk memanggil Roh Agung mohon pertolongan. “Roh Agung, tanah kami sekarat, dan rakyat kami hampir musnah. Hentikanlah kemarau panjang ini dan selamatkanlah rakyatMu, karena tak ada lagi yang tersisa dari kami.” Mereka mengajukan doa dengan tarian dan nyanyian. Si gadis kecil mengamati orang-orang yang sedang berdoa itu, sambil memeluk boneka yang mirip dirinya. Itulah satu-satunya teman yang memberinya kekuatan dalam masa sulit dan kelaparan.
Roh Agung akhirnya memberi pencerahan,bunyinya,”Hai manusia, selama banyak generasi kalian mengambil apa saja yang kalian butuhkan dari bumi, tetapi kalian, manusia, tak pernah sekali pun memberi kembali kepada bumi. Sekarang bumi tertekan dan memerlukan pengorbanan dari kalian. Berikanlah sesuatu yang paling berharga dalam hidup kalian, persembahkan itu sebagai kurban bakaran lalu abunya sebarkan keempat arah mata angin. Jika itu terlaksana , maka hujan akan turun dan bumi akan pulih kembali.”
Penduduk yang memahami pesan itu, segera kembali ke pondok masing-masing untuk menemukan benda paling berharga mereka. Seorang pemanah menemukan busur, tetapi katanya,”Pastilah Roh Agung tidak menginginkan busurku ini.” Seorang dukun yang sangat mencintai tanaman obat-obatan, berkata:”Ah, Aku tahu Roh Agung tidak akan meminta tanaman ini.” Seorang ibu yang sayang sekali pada selimut tebalnya, berkata”Ah mana mungkin Roh Agung menginginkan selimut ini.”
Begitulah semua orang menemukan alasan untuk tidak memberikan benda berharga mereka. Sementara bencana makin parah dan banyak manusia sekarat. Keadaan itu menggerakkan hati si gadis kecil. Segera ia mengambil bonekanya dan berkata,”Bonekaku sayang, Roh Agung menginginkanmu,” Dan malam hari ia mempersembahkan boneka kesayangannya, merelakan boneka itu dimakan api. Sambil menangis ia berkata,”Roh Agung, boneka ini, hadiah ibuku sebelum ia meninggal, boneka ini paling berharga dalam hidupku, terimalah.” Airmatanya terus mengalir ketika ia menebarkan abu ke empat penjuru bumi. Ia membayangkan wajah orang-orang tercinta yang telah meninggal karena bencana di kampungnya. Esok hari, ketika ia terbangun, …tetes hujan pertama jatuh membasahi wajahnya…rakyat pun bersuka cita dan selamat dari bencana. Sejak hari itu, ia dinamakan,”Dia Yang Mencintai.”
Roh Agung akhirnya memberi pencerahan,bunyinya,”Hai manusia, selama banyak generasi kalian mengambil apa saja yang kalian butuhkan dari bumi, tetapi kalian, manusia, tak pernah sekali pun memberi kembali kepada bumi. Sekarang bumi tertekan dan memerlukan pengorbanan dari kalian. Berikanlah sesuatu yang paling berharga dalam hidup kalian, persembahkan itu sebagai kurban bakaran lalu abunya sebarkan keempat arah mata angin. Jika itu terlaksana , maka hujan akan turun dan bumi akan pulih kembali.”
Penduduk yang memahami pesan itu, segera kembali ke pondok masing-masing untuk menemukan benda paling berharga mereka. Seorang pemanah menemukan busur, tetapi katanya,”Pastilah Roh Agung tidak menginginkan busurku ini.” Seorang dukun yang sangat mencintai tanaman obat-obatan, berkata:”Ah, Aku tahu Roh Agung tidak akan meminta tanaman ini.” Seorang ibu yang sayang sekali pada selimut tebalnya, berkata”Ah mana mungkin Roh Agung menginginkan selimut ini.”
Begitulah semua orang menemukan alasan untuk tidak memberikan benda berharga mereka. Sementara bencana makin parah dan banyak manusia sekarat. Keadaan itu menggerakkan hati si gadis kecil. Segera ia mengambil bonekanya dan berkata,”Bonekaku sayang, Roh Agung menginginkanmu,” Dan malam hari ia mempersembahkan boneka kesayangannya, merelakan boneka itu dimakan api. Sambil menangis ia berkata,”Roh Agung, boneka ini, hadiah ibuku sebelum ia meninggal, boneka ini paling berharga dalam hidupku, terimalah.” Airmatanya terus mengalir ketika ia menebarkan abu ke empat penjuru bumi. Ia membayangkan wajah orang-orang tercinta yang telah meninggal karena bencana di kampungnya. Esok hari, ketika ia terbangun, …tetes hujan pertama jatuh membasahi wajahnya…rakyat pun bersuka cita dan selamat dari bencana. Sejak hari itu, ia dinamakan,”Dia Yang Mencintai.”
Selasa, 31 Agustus 2010
Pelukan Cinta
Kalau ada pelukan cinta,
yang kerap kurasa menyelimuti keseluruhan rasa tubuh dan hatiku
Pernahkah engkau akan menjadi nyata
datang kepadaku?
Aku rindu menatap wajahmu
Siapakah engkau,
Yang kusapa setiap saat dengan banyak nama
Kehadiranmu nyata namun aku tak mampu melihatmu,
Kusapa engkau dalam pepohonan
Yang menebarkan energinya ke dalam jiwaku
Kusapa engkau dalam angin
Yang mengingatkanku akan gerak alam alam semesta
Kusapa engkau dalam langit berbintang,
Yang menyampaikan penghiburanmu kepadaku
Kusapa engkau dalam cahaya pagi,
Yang memberiku kegairahan menyambut kebaruan
Kusapa engkau dalam terang rembulan,
Yang memberiku rasa dicintai dan dikenang
Dalam kesendirianku
Engkau ada di mana-mana
Menemuiku
Seakan menyampaikan pesan
Bahwa sesungguhnyalah aku tak pernah sendirian,
Itulah yang membuatku meirndukanmu
Siapakah engkau,wahai roh semesta.
Tulisan ini kubuat tahun 2006, tak sengaja aku membuka filenya lagi, dan ternyata pengalaman itu tetap sama. Setiap pagi, hari-hari ini, ketika aku jalan pagi dalam gelap yang pekat, ketika alam bersiap menyambut terang, aku melintasi pepohonan di kiri kanan jalan, bagaikan gerbang yang dilewati calon pengantin King Arthur dalam kerajaan Kamelot, menyongsong sang Raja. Pohon-pohon itu begitu tenang, menebarkan aroma wangi bunga yang lembut. Kehadiran pohon, yang di kala siang terabaikan oleh deru kendaraan dan polusi, kini begitu nyata bagiku. Ia kurasa bagai sosok rendah hati, yang memaklumi hati manusia yang keruh karena mengejar yang fana. Dari hatiku terlontar sapaan, "selamat pagi..pohon, terima kasih....sembuhkan kehidupanku, sembuhkan hatiku,...sembuhkan kami." Ketenangannya memberiku rasa aman dan perlindungan. Ini mengingatkankan pada kisah-kisah mitologi mengenai pohon kehidupan. Ibu kehidupan berdiam di pepohonan. Di Kompas minggu lalu aku baca cerpen yang berbicara tentang manusia-manusia kehilangan rasa, mereka mampu mencintai kembali karena menyelamatkan pohon yang hampir ditebang oleh kebodohan manusia pintar yang merasa bangunan lebih berharga dari hutan. Aku pun salah satu dari sekian banyak manusia bodoh yang cintanya dijernihkan kembali oleh roh semesta yang menyapaku dalam pepohonan, di pagi hari, saat fajar menyapa dunia baru.
Ketika, the goddess menyapaku, hari ini...
(Dewi Minangsari)
yang kerap kurasa menyelimuti keseluruhan rasa tubuh dan hatiku
Pernahkah engkau akan menjadi nyata
datang kepadaku?
Aku rindu menatap wajahmu
Siapakah engkau,
Yang kusapa setiap saat dengan banyak nama
Kehadiranmu nyata namun aku tak mampu melihatmu,
Kusapa engkau dalam pepohonan
Yang menebarkan energinya ke dalam jiwaku
Kusapa engkau dalam angin
Yang mengingatkanku akan gerak alam alam semesta
Kusapa engkau dalam langit berbintang,
Yang menyampaikan penghiburanmu kepadaku
Kusapa engkau dalam cahaya pagi,
Yang memberiku kegairahan menyambut kebaruan
Kusapa engkau dalam terang rembulan,
Yang memberiku rasa dicintai dan dikenang
Dalam kesendirianku
Engkau ada di mana-mana
Menemuiku
Seakan menyampaikan pesan
Bahwa sesungguhnyalah aku tak pernah sendirian,
Itulah yang membuatku meirndukanmu
Siapakah engkau,wahai roh semesta.
Tulisan ini kubuat tahun 2006, tak sengaja aku membuka filenya lagi, dan ternyata pengalaman itu tetap sama. Setiap pagi, hari-hari ini, ketika aku jalan pagi dalam gelap yang pekat, ketika alam bersiap menyambut terang, aku melintasi pepohonan di kiri kanan jalan, bagaikan gerbang yang dilewati calon pengantin King Arthur dalam kerajaan Kamelot, menyongsong sang Raja. Pohon-pohon itu begitu tenang, menebarkan aroma wangi bunga yang lembut. Kehadiran pohon, yang di kala siang terabaikan oleh deru kendaraan dan polusi, kini begitu nyata bagiku. Ia kurasa bagai sosok rendah hati, yang memaklumi hati manusia yang keruh karena mengejar yang fana. Dari hatiku terlontar sapaan, "selamat pagi..pohon, terima kasih....sembuhkan kehidupanku, sembuhkan hatiku,...sembuhkan kami." Ketenangannya memberiku rasa aman dan perlindungan. Ini mengingatkankan pada kisah-kisah mitologi mengenai pohon kehidupan. Ibu kehidupan berdiam di pepohonan. Di Kompas minggu lalu aku baca cerpen yang berbicara tentang manusia-manusia kehilangan rasa, mereka mampu mencintai kembali karena menyelamatkan pohon yang hampir ditebang oleh kebodohan manusia pintar yang merasa bangunan lebih berharga dari hutan. Aku pun salah satu dari sekian banyak manusia bodoh yang cintanya dijernihkan kembali oleh roh semesta yang menyapaku dalam pepohonan, di pagi hari, saat fajar menyapa dunia baru.
Ketika, the goddess menyapaku, hari ini...
(Dewi Minangsari)
Minggu, 29 Agustus 2010
Tatapan itu suci
“Di Amerika Selatan, seorang jurnalis bertemu dengan seorang kepala suku penduduk asli Amerika, dan jurnalis ini ingin mewawancarainya. Kepala suku itu setuju dengan syarat bahwa mereka bertemu dahulu sebelum interview. Jurnalis ini mengira bahwa dalam pertemuan itu mereka akan omong-omong, seperti pertemuan biasa. Ternyata, sang kepala suku menarik tubuhnya ke samping, dan menatap lurus ke matanya, diam lama sekali. Sikap ini membuat sang jurnalis ketakutan. Ia merasa seperti ditelanjangi oleh tatapan dan sikap diam orang yang tak dikenalnya itu. Tak lama kemudian si jurnalis mulai menguatkan tatapannya sendiri. Keduanya menatap dengan diam dalam waktu lebih dari dua jam! Sesudah itu, ia merasa seakan mereka sudah saling mengenal sejak lama. Tak ada lagi kebutuhan untuk interview.” Dalam arti tertentu, tatapan ke mata orang lain adalah tatapan ke kedalaman dan ke keseluruhan hidup orang yang ditatap. Tatapan mata tak dapat membohongi dunia batin kita. ….
Langgan:
Entri (Atom)