Selasa, 31 Agustus 2010

Pelukan Cinta

Kalau ada pelukan cinta,
yang kerap kurasa menyelimuti keseluruhan rasa tubuh dan hatiku
Pernahkah engkau akan menjadi nyata
datang kepadaku?
Aku rindu menatap wajahmu
Siapakah engkau,
Yang kusapa setiap saat dengan banyak nama
Kehadiranmu nyata namun aku tak mampu melihatmu,
Kusapa engkau dalam pepohonan
Yang menebarkan energinya ke dalam jiwaku
Kusapa engkau dalam angin
Yang mengingatkanku akan gerak alam alam semesta
Kusapa engkau dalam langit berbintang,
Yang menyampaikan penghiburanmu kepadaku
Kusapa engkau dalam cahaya pagi,
Yang memberiku kegairahan menyambut kebaruan
Kusapa engkau dalam terang rembulan,
Yang memberiku rasa dicintai dan dikenang
Dalam kesendirianku
Engkau ada di mana-mana
Menemuiku
Seakan menyampaikan pesan
Bahwa sesungguhnyalah aku tak pernah sendirian,
Itulah yang membuatku meirndukanmu
Siapakah engkau,wahai roh semesta.

Tulisan ini kubuat tahun 2006, tak sengaja aku membuka filenya lagi, dan ternyata pengalaman itu tetap sama. Setiap pagi, hari-hari ini, ketika aku jalan pagi dalam gelap yang pekat, ketika alam bersiap menyambut terang, aku melintasi pepohonan di kiri kanan jalan, bagaikan gerbang yang dilewati calon pengantin King Arthur dalam kerajaan Kamelot, menyongsong sang Raja. Pohon-pohon itu begitu tenang, menebarkan aroma wangi bunga yang lembut. Kehadiran pohon, yang di kala siang terabaikan oleh deru kendaraan dan polusi, kini begitu nyata bagiku. Ia kurasa bagai sosok rendah hati, yang memaklumi hati manusia yang keruh karena mengejar yang fana. Dari hatiku terlontar sapaan, "selamat pagi..pohon, terima kasih....sembuhkan kehidupanku, sembuhkan hatiku,...sembuhkan kami." Ketenangannya memberiku rasa aman dan perlindungan. Ini mengingatkankan pada kisah-kisah mitologi mengenai pohon kehidupan. Ibu kehidupan berdiam di pepohonan. Di Kompas minggu lalu aku baca cerpen yang berbicara tentang manusia-manusia kehilangan rasa, mereka mampu mencintai kembali karena menyelamatkan pohon yang hampir ditebang oleh kebodohan manusia pintar yang merasa bangunan lebih berharga dari hutan. Aku pun salah satu dari sekian banyak manusia bodoh yang cintanya dijernihkan kembali oleh roh semesta yang menyapaku dalam pepohonan, di pagi hari, saat fajar menyapa dunia baru.

Ketika, the goddess menyapaku, hari ini...
(Dewi Minangsari)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar