Berjumpa dengan Ibu
Kehidupan
GADIS GEMBALA ANGSA
Suatu ketika seorang
pemuda bangsawan dalam perjalanannya, berjumpa dengan seorang nenek tua yang membawa kantong rumput. Pemuda itu tergerak membantu membawakan kantong rumput sang nenek.
Ia tak mengira beban yang dibawanya berat bukan main. Setiba di rumah
sang nenek, pemuda bangswan itu diperkenalkan kepada seorang gadis berwajah kotor yang sedang
menggembalakan angsa. Tak lama kemudian, sang pemuda berpamitan, namun sebelum ia meninggalkan kediaman sang nenek, pemuda itu menerima
sebuah kotak berhiaskan permata indah. “Bawalah, kotak ini, Nak, karena itu akan memberimu keberuntungan”. Demikian pesan
sang nenek.
Tiga hari kemudian tibalah pemuda bangswan ini di suatu kerajaan. Ia mempersembahkan kotak itu di hadapan raja dan
permaisuri. Sang permaisuri tersentak, batu mutiara dalam kotak itu
mengingatkannya pada air mata putri bungsu mereka yang diusir raja tiga tahun
lalu, karena raja tersinggung mendengar putri bungsu mengungkapkan cintanya
kepada raja bagaikan garam. Sejak hari mereka melihat isi kotak itu hati raja dan permaisuri tak lagi berbahagia. Mereka
meminta sang pemuda mengantarkan mereka ke tempat asal kotak tersebut. Sementara itu di kediamannya, sang nenek menyiapkan rumah dan berpesan kepada gadis berwajah kotor yang bekerja di rumahnya: "Tak lama lagi akan
ada tamu, bukalah kulit wajahmu dan kenakan pakaian sutera yang dulu kau kenakan
ketiba tiba di tempat ini.". Si putri bingung namun ditaatinya pesan
nenek. Memang benar, malam itu ketiga pengembara tiba. Terjadilah
pertemuan yang mengharukan antara sang putri dengan raja dan permaisuri.
Setelah luapan emosi mereka mereda, raja berkata, “Putriku, aku sudah memberikan
kerajaan kepada kakak-kakakmu, jadi aku tak punya apa-apa lagi untuk
kuhadiahkan kepadamu. Kalau bersedia, engkau akan kunikahkan dengan pemuda
bangsawan yang telah mempertemukan kita.” Si bungsu tak menolak. Menyaksikan
semua berjalan lancar, sang nenek pun berpamitan seraya menebar berkat. Mendadak
bumi bergoncang, Rumah nenek berubah menjadi kastil indah. Dan, selanjutnya dapat
ditebak, mereka semua hidup berbahagia.
Sahabat, Sang nenek mengingatkan
kita pada kehadiran tokoh yang dulu kita kenal dengan nama La Loba. Nenek ini
menanti dengan waspada para peziarah
yang hatinya terbuka untuk tumbuh. Perjalanan menemukan nenek Bijak, ibarat
perjalanan ke rumah jiwa. Semuanya dilukiskan sebagai perjalanan sukar untuk
meraih akhir bahagia. Raja dan Permaisuri tidak bahagia sebelum menemukan
putrinya; si lelaki bangsawan harus menjalani tes kekuatan fisik dan hati untuk
menemukan kekasih jiwa-nya. Si gadis muda ditempa menjadi gembala angsa dan pengurus
rumah. Jadi, kalau Anda sedang dilanda krisis, hati Anda serasa berbeban berat
oleh perbuatan sendiri atau akibat keadaan lingkungan….tetaplah buka hati, Ibu
Kehidupan sedang menuntutn Anda ke suatu tempat terpencil di mana kerinduan
sejati Anda akan terwujud..
Jakarta, 21 Nov 2012
Dewi Minangsari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar