Memilih untuk mencintai membuat hati rapuh, mudah tersentuh, dan karenanya mudah ‘sakit’. Tetapi bagiku lebih baik tetap memilih untuk mencintai dari pada membiarkan hati mengeras dan beku. Memilih untuk mencintai, berarti juga memilih untuk terus menerus setia melakukan proses pemurnian batin, kalau tidak hati yang sakit akan mengotori kemurnian cinta, cinta bukan lagi energi yang menggairahkan hidup, melainkan energi yang merusak hidup.…bagaimana memperlakukan pengalaman terluka dan noda-noda hidup yang kita toreh, sengaja atau tak sengaja di sepanjang perjalanan hidup kita? Kisah batu rubi yang cacat memberiku inspirasi :
BATU RUBI YANG CACAT
Adalah seorang raja yang memiliki batu rubi luar biasa indah dan mahal, hasil kemakmuran, kekayaan dan kekuasaannya. Setiap hari raja memandangi batu rubi itu dengan sangat bangga. Suatu hari ia mendapati batu rubinya telah tergores. Ia menjadi sangat cemas bagaimana memperbaiki cacat pada batu indah tersebut ? Kemudian dia memanggil semua ahli batu permata di seluruh negeri untuk memeriksa dan melakukan sesuatu memperbaikinya. Para tukang permata itu sepakat, perbaikan yang dilakukan akan menyebabkan kerusakan yang lebih parah. Mendengar itu raja putus asa. Ia menawarkan hadiah besar kepada tukang permata, tetapi tak ada yang berani. Beberapa hari kemudian seorang pelayan menyampaikan kabar, ada ahli permata yang tinggal di daerah terpencil. Ia dikenal sangat berpengalaman dalam mengatasi masalah kerusakan permata murni. Raja meminta petugas memanggilnya. Tak lama sang utusan datang bersama ahli permata tersebut. Penampilannya yang tua, bungkuk dan lusuh mengundang sikap cemooh para pembesar kerajaan. Tetapi raja tak peduli, ahli permata itu dibawanya melihat batu rubinya yang cacat. Setelah berpikir sejenak, sang ahli berkata,”Saya tak bisa memperbaiki cacat pada batu rubi Tuanku. Tetapi jika Tuanku berkenan, hamba akan membuatnya lebih indah. Semula raja ragu-ragu, tetapi ia sudah sangat putus asa karena tak ada lagi yang dapat dilakukan, maka ia setuju saja. Si ahli permata mulai bekerja. Ia memotong, menggosok batu rubi tersebut. Beberapa hari kemudian, raja boleh menyaksikan hasil karyanya. Di atas batu permata itu si ahli permata memahat bunga mawar yang sangat indah dan rumit yang alurnya dibentuk dari goresan yang telah membuat batu itu cacat.
Sahabat, kisah tadi mengingatkan, bahwa cacat tak dapat dilenyapkan, melainkan dirubah menjadi bentuk baru yang lebih indah. Demikian pula cacat hidup, noda dan trauma, tak bisa lenyap dalam hidup sama sekali. Oleh karena itu tak perlu bersusah payah menutupi atau melenyapkan noda hidup, melainkan telusuri setiap alur noda, dan pahatlah di atasnya karya-karya baru yang berkualitas. Dengan cara itu hidupku, hidupmu menjadi ringan dan bermakna. Selamat memahat kehidupan batin.....
Salamku, Dewi Minangsari
Yth mbak Dewi Minangsari, tulisan ini sangat bermanfaat bagi yang menyukai keindahan terhadap dirinya bukan fanatisme terhadap dirinya, artinya bersyukurlah bagi yg para berjiwa yang masih mempunyai harapan memperindah dari cacatnya persepsi diri menjadi bagian dari keindahan tersebut.
BalasHapusDan mbak itu sendiri bagian dari bukti keindahan semangat para berjiwa besar :) salam kenal dari saya Ali Syehan Nasution,CHt (facebook)