Kamis, 05 Agustus 2010

The Goddess'Circle-Introduction 1

The Goddess'Circle berawal dari sebuah legenda Yunani kuno bernama Putri Psike. Kisah hidup sang putri dikisahkan cukup panjang, ada beberapa fase dengan judul-judul sebagai berikut:

Putri Psike Mengakhiri Masa Lajang: Menikah dengan Kematian
Putri Psike menikah dengan Dewa Eros: Bangun dari Surga Palsu
Putri Psike dan Dewa Pan : Hening merupakan pintu ke aspek kreatif
Putri Psike dan Semut Penolong: Perempuan harus memilih
Gelagah, Sang Sahabat : Meraih tujuan tanpa kekerasan
Putri Psike dan Air Kehidupan: Fokus untuk mencapai tujuan
Putri Psike dan Menara Penolong: Belajar menolak, demi menyelamatkan jiwa

Kisah panjang itu saya ringkas bunyinya demikian:
“ Dahulu kala, adalah sebuah kerajaan yang rakyatnya sejahtera karena dipimpin oleh Raja dan Ratu bijaksana. Raja dan Ratu memiliki tiga putri yang cantik jelita. Ketika mereka dewasa, putri pertama dan kedua dengan mudah mendapatkan jodoh. Mereka menikah, yang satu dengan seorang pangeran dari kerajaan tetangga, dan yang lain dengan Raja muda dari negeri seberang. Tinggalah putri Psike menunggu saat ia dapat mengikuti jejak kakak-kakaknya, menikah dan membangun keluarganya sendiri. Banyak pangeran, raja muda, kesatria, dan lelaki muda hebat yang berkunjung ingin melamar sang putri yang kecantikannya terkenal luas. Mereka terpesona, mereka terpikat, tetapi tak ada satu pun yang mengajukan lamaran. Tampaknya mereka memandang Putri Psike bagaikan memandang dewi sungguhan, makhluk cantik, mempesona, dikagumi dan dipuja tapi tidak untuk dimiliki. Memang banyak orang mengaitkannya dengan seorang dewi sungguhan, yakni Dewi Aprodite.

Tentu saja putri Psike merasa sangat menderita dan kesepian. Raja dan permaisuri pun pun resah. Mereka akhirnya pergi menemui peramal terkenal di Delphi hanya untuk lebih berduka, karena ramalan menyatakan Putri Psike akan menikah dengan seornag lelaki bernama Kematian. Seperti namanya, menikahinya berarti mati. Raja dan Ratu tak bertanya mengapa si cantik mesti mati pada hari perkawinannya. Orang Yunani kuno menganggap jawaban peramal di Delphi sebagai kebenaran mutlak. Begitulah, mereka menyiapkan upacara perkawinan sekaligus prosesi kematian. Putri Psike diarak menuju puncak gunung diiringi kepedihan hati para pengiring dan tangis kedua orang tuanya. Di sana dia diikat dan ditinggalkan.

Putri Psike memang harus mati tetapi kematian tersebut dirancang oleh Dewi Aprodite yang cemburu oleh kecantikan sang putri. Dewi Aprodhite menyuruh puteranya, Dewa Eros untuk memanah Putri Psike, dengan anak panah yang dapat menyalakan cinta di hati Psike terhadap makhluk mengerikan yang akan memangsanya hingga mati. Dewa Eros menuju ke tempat Putri Psike. Tetapi saat ia memasang anak panah dan menatap sekilas ke arah Psike, Eros mendadak gugup, dan tak sengaja ujung anak panahnya menusuk jarinya sendiri .Jadilah ia sendiri yang jatuh cinta pada Putri Psike. Dewa Eros memutuskan untuk menikahi Putri Psike dan meminta sahabatnya, Angin Barat, untuk menurunkan Putri Psike ke Lembah Surgawi. Ketika Psike menyadari apa yang terjadi, ia terdiam, tak menanyakan apa-apa. Terbebaskan dari kematian saja tak terbayangkan, apa lagi kini berada di tempat indah, dengan para pelayan cantik dan musik mengalun indah… dan suaminya, Eros menemaninya setiap malam. …too good to be true. Eros, sang suami mengajukan satu syarat kepada Psike,”Please, jangan pernah bertanya tentang diriku, jangan pernah menatap wajahku,jangan pernah bertanya tentang apa yang kulakukan, kalau engkau ingin aku selalu di sampingmu.“ Permintaan itu tentu saja diturutinya.

Suatu hari para saudari Psike berkunjung. Mereka saling bertanya dan berbagi ceritera. “Bagaimana Dik, suamimu, kayak apa sih dia, ganteng? Baik? Psike menjawab,”Aku tak tahu apa-apa, aku tak boleh bertanya, tidak boleh melihat wajahnya, pertemuan kami selalu di malam hari, dalam kegelapan. Saat siang, ia pergi, entah kemana..…” Saudari perempuannya yang iri akan kebahagiaan Psike, terus mendesak,.”Engkau aneh, jangan-jangan suamimu makhluk mengerikan,. kog mau sih diam saja! Kat-kata itu menggelitik hati Psike. Dan suatu malam, ketika Eros tengah pulas tertidur dalam gelap, Psike diam-diam manyalakan lampu minyak…mendekatkannya ke wajah Eros. Malang, minyak panas menetes ke bahu Eros. Eros terbangun….karena Dewa, ia terbang dan lenyap seketika. Putri Psike sedih bukan main. Rasa kehilangan mendalam telah membuka pintu jiwanya untuk memasuki saat-saat kelam demi mendapatkan kembali kekasihnya.

Sejak itu, tahap demi tahap ia menjalani berbagai tempaan hidup, semakin lama semakin sukar. Tempaan itu diberikan oleh Dewi Aprodite. Kegagalan melaksanakan tugas tentu membawanya ke kematian. Tetapi Putri Psike bertekad menemukan kembali cintanya, Dewa Eros. Petualangan melaksanakan tugas-tugas berat, memunculkan berbagai aspek kakuatan dirinya. Ia semakin diperkaya, semakin dewasa.

Tugas terakhir dan tersulit adalah mengambil minyak kecantikan di dunia bawah. Kali ini pun ia berhasil. Ketika tiba di bumi, entah bagaimana tiba-tiba ia dikuasai oleh rasa ingin tahu dan penasaran,”Minyak kecantikan ini begitu berharga bagi Dewi Aprodite, mengambilnya saja sudah setengah mati….kalau begitu, mengapa tidak kuambil saja untuk diriku sendiri..?” Dengan pikiran itu ia membuka tutup guci ….dan…bukannya aroma kecantikan yang dihirupnya dari dalam guci, melainkan aroma yang membuatnya jatuh tertidur. Psike jatuh dan terbaring di tanah seakan ia mati. ..nyawanya terancam…Eros, merasakan keadaan bahaya yang dialami Psike, ia bergegas menemui Psike, menghapus minyak tidur tadi dan menutup guci. Lalu digendongnya Psike, menuju puncak gunung Olimpus, di mana Zeus telah menanti. Eros memohon kepada Zeus agar menjadikan Psike sebagai Dewi. Zeus tak menolak, demikian pula Aprodite yang akhirnya puas oleh apa yang dilakukan Psike. Semua dewa-dewi setuju…mereka menikah dan pada waktunya Psike melahirkan anak yang mereka beri nama Pleasure, kenikmatan......”
Perjalanan sang putri merupakan proses transformasi jiwa menjadi makhluk spiritual, yang dalam legenda dinyatakan sebagai the goddess.

Apa maknanya untuk kita?

(continued - to Introduction 2...)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar