Kisah Putri Abu-Aschenputtel
Saat usianya tengah baya, Putri Abu merasakan sebuah pesan menusuk hati dari tatapan mata adik perempuannya. Sang adik memandang Putri Abu sebagai makhluk yang memalukan, karena ia tidak punya apa-apa dan siapa-siapa. Putri Abu tidak punya suami, ia hidup sendirian dan tak punya apa-apa untuk diandalkan oleh keluarganya. Di mata adik perempuannya yang lain, ia hanyalah makhluk menjijikkan, ” You’re nothing, Pergilah engkau dari hadapanku, engkau tak perlu ada, engkau tidak ada artinya.”
Hanya di mata bapaknya Putri Abu melihat cinta dan penerimaan. Dari bapaknya ia mengalami pembelaan. Di matanya Putri Abu merasa ia sangat berharga. Putri Abu teringat waktu kecil, bapak menggendongnya di bahunya, bapak mengiriminya buku-buku cerita, dia membelikan Putri Abu baju-baju saat ia remaja, ketika bapak melihatnya tak mampu bersuara meminta haknya pada ibunya, hak yang sudah direbut oleh kakak perempuannya.
Alam semesta tidak pernah tinggal diam. Ibu Kehidupan, perempuan pencinta hidup datang menyelamatkannya. Ia menerobos ke permukaan samudera jiwa si Putri Abu. Ia muncul dalam wujud sang Princess. Dalam wujud ini kehidupan berada di pihak Putri Abu. Saat ia dianiaya oleh saudari-saudari dan ibunya, sang Princess tampil tabah dan anggun. Ia menerima perendahan dan penolakan dengan besar hati. Wajahnya tetap ramah dan hatinya tetap mencintai. Ketika ia dihancurkan dan hampir mati, Ibu Kehidupan malah membawanya kembali ke tanah air sejatinya, ke kerajaan di mana sepantasnya ia berada. Kini Putri Abu dengan bangga berkata pada dirinya sendiri 'Aku, The Princess Goddess of Love.' "
Pengalaman kegembiraan dan kekuatan dari sang Princess, kuceritakan ke pada teman-teman perempuan. Kisahku bergema juga dalam pengalaman hidup mereka. Aku mendengar kisah-kisah pemenang lain dari mereka. Maka terpikir olehku untuk menciptakan The Goddess’circle, sebuah wadah bagi kaum perempuan untuk mengolah dirinya. Dengan berbagi kisah, atau membuat kisah dari kisah, akan semakin jelas bagi kita fase-fase hidup yang kita lalui, jelas pula buah kehidupan yang kita nikmati, jernih pula arah kehidupan yang kita tuju. Kita semua di bawa untuk menjadi makhluk ilahi, Sang Dewi - The Goddess, image sejati kita.
Keinginanku, agar kita, saya dan Anda, tidak membiarkan kehidupan berlalu tanpa memetik buah-buah kehidupan yang disediakan sang Pencipta, ’Ia menghendaki kita hidup dan hidup dalam kelimpahan'
(continued- to Introduction 4 The Goddess'circle)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar