Jumat, 20 Agustus 2010

Perempuan Penyembuh

Pagi ini saya membaca sebuah artikel mengenai seorang tukang pijet. Di banyak tempat bisnis ini makin subur. Yang memprihatinkan tempat ini dimanfaatkan juga oleh lelaki yang kalah oleh hasrat, menjadi pemuasan. Memang pengalaman dipijet mengajar kita tentang seksualitas diri sendiri. Pijetan yang enak dan nyaman merangsang hasrat kenikmatan untuk dipuaskan, sebaliknya pijetan juga dapat memicu pengalaman pelecehan di masa lampau, karena disentuh secara tak pantas atau karena tak pernah disentuh sama sekali. Pijetan dapat memicu ketakutan kehilangan kontrol oleh rangsangan seksual, cemas kalau-kalau kita lepas kontrol.

Pijet memijet sesungguhnya dapat dihayati sebagai pengalaman spiritual. Pijetan merupakan komunikasi berbagai energi. Sentuhan tangan pemijet adalah medium mengalirnya energi kesembuhan, dan di sini kemampuan memahami batas sangat-lah penting. Pijet juga merupakan percakapan dalam bahasa rasa, si pemijet memberikan talenta berharga, yakni dirinya sendiri. Saat memijet ia memberikan energi kesembuhan yang ia terima.

Seorang perempuan tukang pijet yang menghayati pekerjaannya secara spiritual mengatakan, kalau sentuhannya untuk menyembuhkan orang lain, maka ia harus bisa mempercayai dirinya sendiri, mempercayai kemurnian batiniahnya. Sentuhan seperti ini tidak hanya menyembuhkan penyakit fisik, lebih jauh lagi ia menyembuhkan luka di hati orang lain yang kita sentuh.

Jadi, percayai kemurnian batin kita….agar sentuhan lembut semakin berdaya menyembuhkan dan menyucikan.

Berjalan tertatih-tatih, letih
Seorang lelaki meminta uang
kepada seorang perempuan, sasaran empuk,
Perempuan itu tak punya uang,
Dengan spontan ia menyentuh bahu si lelaki
Lelaki itu menangis tersedu-sedu.
Telah bertahun-tahun tak seorang pun memberinya sentuhan.                                                        (SPIRITUALITY, Orbis Book)

Dewi Minangsari,
Sabtu yang murni 21Ag 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar