Minggu, 08 Agustus 2010

Kisah Perempuan Kupu-Kupu

"Ibu alam semesta tidak terbatas dan hadir dalam kekekalan.”

Pada umumnya perempaun lebih mudah mencapai keilahian, secara potensial juga lebih dekat dengan pencerahan. Itu sebabnya dalam budaya kuno banyak ditemukan figur perempuan untuk menggambarkan realitas yang transenden itu. Realitas tanpa bentuk digambarkan sebagai rahim yang melahirkan segala sesuatu dalam penciptaan serta melanjutkan dan memeliharanya selama kehidupan berlangsung. .“ (Eckhart Tolle-the power of now). Membaca teks tersebut mengingatkan saya pada kisah-kisah perempuan pencinta kehidupan yang pernah saya bahas dalam talkshow di Smart FM beberapa tahun lalu. Berikut  satu kisahnya:

Perempuan Kupu-Kupu

Sahabat, kisah berikut sebenarnya bukan dongeng, melainkan cerita yang masih hidup hingga kini dalam suku yang terletak di Puyė, suatu daerah tak terkenal di dataran berdebu, di pedalaman New Meksiko. Kedekatan suku asli dengan insting alami kerap menjadi daya tarik tersendiri bagi para turis. Kisah berikut memperlihatkan perbedaan dua dunia dalam memandang simbol, dan kita diundang untuk menjalin hubungan dengan makna aslinya.

"Bertahun-tahun para turis datang ke Puyė. Jalanan menuju tempat itu dulunya dibuat untuk penunggang kuda dan pejalan kaki yang mengenakan moccasin, sandal suku Indian. Tetapi waktu demi waktu berlalu, kini kendaraan berbagai jenis melewatinya, dengan penumpang bersepatu. Sebagian dari para turis itu telah terputus dari placenta sipritualnya. Mereka datang dengan berbagai harapan :ingin menyaksikan sesuatu yang tak terlupakan, untuk melihat hal-hal yang tak semua orang bisa melihatnya. Mereka ingin melihat the wildest of the wild, yakni Butterfly woman, Perempuan Kupu-kupu, dan tarian kupu-kupu yang ditampilkan pada bagian akhir. Semua orang menantikan tontonan ini dengan penuh semangat, menantikan tarian tunggal oleh seorang penari perempuan. Sebagian dari mereka membayangkan penarinya pastilah seorang gadis muda yang cantik, seperti yang pernah mereka saksikan di suku Zuni, tarian gadis muda dengan pakaian kuno berwarana merah dan hitam dengan salah satu bahu terbuka. Begitulah…waktu berlalu…..tidak seperti pertunjukan balet, di mana sesudah perkenalan, layar panggung lalu terbuka dan tarian pun mulai….tetapi ini…waktu lewat…..waktu berlalu lagi….dan lewat lagi….


Mereka hampir tak sabar, lelah menanti dan berkeluh kesah. Dan..tepat ketika matahari terbenam, tabuhan genderang pun bertalu-talu mengisyaratkan irama kupu-kupu, dan para penyanyi mendaraskan pujian kepada para dewa karena kebaikan mereka. Para turis membayangkan kupu-kupu akan muncul dalam figure yang halus,the fragile beauty yang mereka impikan. Tetapi, di sana di pusat perhatian, yang keluar adalah Maria Lujan, perempuan gemuk, sungguh-sungguh gemuk bagaikan Ibu Bumi. Maria Lujan ini, oh dia tua, sangat-sangat tua, seperti perempuan yang muncul dari debu, tua seperti sungai tua, seperti cemara tua. Salah satu bahunya telanjang, pakaian berupa mantel atau selimut berwarna merah dan hitam membungkus badannya. Dia melompat kian kemari, dialah si kupu-kupu yang datang untuk menguatkan yang lemah, dia, dengan penampilan tua, kupu-kupu, perempuan. Karakter yang sama sekali tidak menampilkan kekuatan, setidaknya begitu pandangan kebanyakan orang. Rambutnya yang panjang menyentuh tanah, berwarna abu-abu. Dia mengenakan sayap seperti sayap malaikat yang dikenakan pada anak-anak di malam natal. Lompatan kakinya tidak halus seperti kelinci, melainkan keras meninggalkan gema ”Aku di sini, aku di sini, aku membangunkanmu, kamu, kamu!” Sayapnya menebarkan serbuk ke bumi dan ke atas orang-orang di bumi. Anggota suku menyaksikannya dengan hormat. Tetapi para turis, mereka saling memandang satu sama lain, seraya berkata, ”Ini…inikah penari kupu-kupu itu?” Mereka bingung, yang lain kecewa. Bukankah perempuan dan kupu-kupu lebih cocok dengan gambaran indah, manis dan rapuh? Sukar merubah image, tak mudah kembali ke makna yang diberikan oleh alam, oleh nenek moyang kita. Para turis tampaknya telah lupa, bahwa dunia batin adalah tempat tinggal perempuan tua yang pengalamannya berlapis-lapis bagai kupu-kupu." (Dari Kumpulan dongeng Woman who Loves Life)

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar