I used to think that freedom
was what someone gave to me,
until I found I was bound by
nameless heavy chains I could not
see…..that very freedom
that no one but myself could
give it to me
I’ve spent my life time waiting for someone to set me free
I could not grow,
I didn’t know, that in my very hands
I held the key
(from EO, 14.3.96)
Puisi ini mengajak Anda untuk memperkuat kesadaran bahwa kunci kemerdekaan diri kita tidak berada di tempat lain. Saya ingin kita lebih menyadari makna keluhan yang kerap kita dengar atau kita ucapkan sendiri ,”Hidupku terkekang, aku tidak bebas karena suami atau isteriku terlalu mengontrol; aku benci pada mama atau papa, karena memaksaku masuk jurusan yang tak kusukai,” Atau,”Yah..mau apa lagi, hidupku begini..memang sudah nasib… “
Apakah itu benar? Apakah memang hidup kita ditentukan oleh orang lain, benarkah kebahagiaan kita ditentukan oleh pasangan, orang tua, atau lingkungan? Mungkin ya…jika itu sesuai dengan harapan kita, nah kalau sebaliknya? Kita salahkan “Nasib”
Kebebasan kita menjalani hidup dan mewujudkan kehidupan yang kita inginkan sesungguhnya tidak berada di teman, di partner, pacar, orang tua, kepala negara, pemimpin, guru, melainkan in our very hands we hold the key. In my very hands I hold the key, In your very hands you hold the key.
Saya, Anda, mempunyai kunci untuk membuka rantai yang membelenggu kita selama ini, agar saya dan Anda hidup lebih merdeka.
Bagaimana rasanya merdeka?
……………………
Bagaimana caranya .....?
Saya jawab dengan sebuah kisah berikut:
KISAH: KOTA BERNAMA A K B A R
Dahulu kala, pada zaman di mana kerap terjadi peperangan, dan perebutan wilayah oleh bangsa atau kerajaan yang lebih kuat, adalah sebuah kota yang bernama Akbar. Kota ini kaya raya dan makmur karena letaknya yang strategis, di jalur perdagangan antara barat dan timur, utara dan selatan.
Suatu hari kota ini diserang dan dihancurkan oleh musuh. Para pejabat, gubernur, kaum bangsawan dan orang kaya, menyelamatkan diri dan harta benda mereka ke kota lain, meninggalkan kaum lemah dan miskin dalam kota yang tak lagi bertuan, ditinggalkan begitu saja oleh musuh. Karena tujuan musuh, hanyalah menguasai kota Akbar untuk dijadikan pintu masuk menaklukkan kota tetangga yang lebih kaya.
Di antara mereka yang tertinggal tak berdaya di kota, adalah seorang pemuda asing, yang beberapa lama pernah menumpang di kota itu, di rumah seorang janda beranak satu. Pemuda ini sebenarnya seorang pelarian dari sebuah suku terjajah di wilayah lain. Ia lari. Pertama karena ia memang hendak dibunuh oleh pasukan penjajah, kedua ia lari dari suara hatinya sendiri yang menyuarakan agar ia bertahan dan berjuang membebaskan bangsanya dari penjajahan. Dalam pelarian itulah ia tiba di Akbar dan di terima di rumah seorang janda yang tinggal di pinggir kota.
Pemuda ini selamat dari bencana pemusnahan kota. Dengan banyak luka dan memar di tubuh, ia ingat akan janda dan anak lelakinya yang masih kecil. Maka dicarinya mereka di antara reruntuhan kota. Anak lelaki, syukur ditemukannya selamat mesti sangat shock dan ketakutan. Mereka berdua mencari ibu si bocah. Sang ibu ternyata sekarat di bawah reruntuhan puing rumah mereka. Sang ibu berkata kepada mereka,”Sebantar lagi aku akan pergi, tapi aku berada di lembah dan bukit di kota ini, aku ada pada orang-orang yang menderita, aku ada di kaum bangsawan, dan para pemimpin. Aku adalah Akbar”
Sang anak menangis....ibunya masih melanjutkan, kali ini berbicara kepada lelaki asing,”Berjanjilah untuk melindungi anakku sampai ia kuat berjalan sendiri...”
Ketika sang janda menghembuskan napas, kedua lelaki itu menangis pedih. Mereka berjalan menuju padang gurun tak jauh dari kota, berjalan tak tentu arah, melepaskan duka lara. Lalu terkapar lelah dan tertidur. Saat terbangun, sang anak mulai mencerna kejadian sebelumnya, ia berkata, ”Aku harus kembali ke Akbar, bukankah ibuku mengatakan bahwa ia adalah Akbar? Aku tak mau wajah ibuku porak poranda....aku akan membangun Akbar.....” seraya mulai lagi menangis.
Sang lelaki yang sadar akan janjinya untuk menjaga si anak, mendukung niat si kecil. Mereka kembali ke kota setelah terlebih dahulu meminta makan pada gembala yang tersebar di gurun.
Mereka bergerak di alun-alun kota. Si bocah mengumpulkan puing-puing dan menatanya agar bisa digunakan lagi untuk membangun kota. Sang lelaki mengumpulkan mayat-mayat yang bergelatakan, di tumpuk di alun-alun untuk dibakar. Melihat ada aktivitas itu, para janda, anak-anak dan lelaki tua yang selamat tergerak untuk melakukan yang sama. Semakin lama kegiatan itu mendapat dukungan dan menimbulkan kembali daya hidup mereka. Kaum ibu mengumpulkan makanan dari rumah-rumah yang ditinggalkan.
Seminggu berlalu, kota telah lebih rapi, mereka sudah memperoleh tempat tinggal, dan kini mereka berkumpul di alun-alun untuk beristirahat. Saat itulah si lelaki berkata:”Hai saudara saudariku seperjuangan....ternyata kita mampu mengalahkan musuh diri kita sendiri, kitalah pemenang kota ini” Horeee.!! Semua berseru dan bertepuk tangan.
Mari kita rayakan hari kemenangan ini. Aku tidak ingin kalian melepaskan begitu saja peristiwa akbar ini. Mari kita beri nama pada hidup kita saat ini, hidup baru yang terberkati.”
“Namaku adalah si Pembebas karena aku akan kembali ke kotaku untuk membebaskannya dari si penjajah”
Si bocah bangkit,”Aku lah si Pembangun, karena aku ingin membangun kotaku secantik ibuku”
Yang lain bergiliran menyusul “Akulah si Penolong” karena aku menemukan hidupku kembali saat menolong para tetanggaku yang terluka.”
DST (Inspirasi dari The Fifth Mountain)
Nah....pertanyaannya adalah, apakah hubungannya antara sebuah nama dan kemerdekaan yang pada awal kita bicarakan?
Kalau kita merasakan semangat para tokoh dalam cerita tadi, dan bagaimana mereka menemukan nama masing-masing, kita akan merasakan sebuah energi hidup, energi para pemenang, dan energi individu-individu yang menemukan kembali kehidupannya yang sesungguhnya. Sebuah energi dari hati yang merdeka. Mereka memilih nama dan dalam nama itu tertulis bentuk dan impian hidup mereka masing-masing. Tak ada nama yang sama, semua unik dan khas, dan disuarakan dengan semangat kelegaan.
Jadi freedom is yours hendak menegaskan: Kita sesungguhnya makhluk meredeka, merdeka dari sejak diciptakan. Kita merdeka memilih dan menentukan seperti apa kita hendak menjalani hidup. Bukan orang lain yang memerdekakan kita, bukan orang lain pula yang menjajah diri kita. Bukan orang lain yang menyebabkan kebahagiaan kita, bukan orang lain pula yang menyebabkan penderitaan kita. Bukan suami, isteri orang tua, kekasih, teman....tetapi in our very hands we hold the key!
Ciri sebuah bangsa dengan individu merdeka di dalamnya adalah: Sebuah kota yang penduduknya saling menolong, yang bernapaskan cinta, bagaikan cinta sang ibu membesarkan anak-anaknya. Bagaikan Akbar, sang ibu si bocah, yang mau menerima dan menolong orang asing dan miskin di rumahnya…dst
Bagaimana mempertahankan kesadaran akan “Fredom is mine?” ......dengan melakukan strategi NAMA
Strategi: “N.A.M.A.”
N amai dirimu: (Tentukan namamu dalam menjalani hidup ini. Nama ini merupakan wujud kehidupan yang didambakan oleh hatimu)
A ksi: (sebuah nama menjadi hidup karena ada aksi, dan aksi bermakna karena ada nama)
M emilih: (inti sikap makhluk merdeka adalah kesanggupannya untuk MEMILIH. Memilih, termasuk memilih nama, memilih jodoh, pekerjaan, karir, jalan hidup dan yang terpenting memilih bagaimana saya mau menjalani hidup ini kini dan di sini)
A ntisipasi: (antisipasi adalah harapan, membayangkan, merasakan, memperkirakan. Jadi kita hidup dan memilih untuk bertindak dengan harapan, dan memilih untuk merasa bahagia dan lega hidup dengan tujuan yang bernama itu. Maka tetap bayangkan wujud nama Anda, dambaan Anda, hirup aroma dan rasakan nyamannya)
SELAMAT MENEMUKAN NAMA,
SELAMAT MERDEKA!!
Oleh Dewi Minangsari, pada Hut Kemerdekaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar